Example floating
Example floating
banner 970x200
Berita

ATW Turun Tangan Cuci Pusaka Bone

142
×

ATW Turun Tangan Cuci Pusaka Bone

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JURNALPOLRI.MY.ID, Watampone – Suasana sakral menyelimuti halaman Museum Arajang, kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone, Rabu (9/4/2025) pagi.

Satu per satu benda pusaka peninggalan Kerajaan Bone dibersihkan secara khidmat.

banner 300x600

Di tengah kerumunan, tampak sosok perempuan berselendang songket Bugis ikut menyingsingkan lengan baju.

Ia adalah Andi Tenri Walinonong, Ketua DPRD Bone, yang dengan penuh penghormatan ikut dalam prosesi Mattompang Arajang.

Tradisi Mattompang Arajang atau penyucian benda pusaka merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian jelang puncak Hari Jadi Bone.

Prosesi ini bukan sekadar seremoni budaya, tapi menjadi ruang sakral di mana sejarah, warisan leluhur, dan jati diri Bugis Bone dirawat dalam diam dan doa.

“Alhamdulillah, ini tradisi sakral. Mattompang bukan hanya menyucikan benda pusaka, tapi juga menyucikan semangat kebangsaan dan kearifan lokal kita sebagai orang Bugis,” ungkap Andi Tenri Walinonong atau ATW, sapaan akrabnya, kepada wartawan usai acara.

Sebagai Ketua DPRD perempuan pertama di Bone, ATW tampak menyatu dengan para tokoh adat, pecinta benda pusaka, hingga masyarakat yang rela berpanas-panasan demi menyaksikan langsung peristiwa langka ini.

Baginya, pelestarian budaya bukan tugas seremoni semata, tapi sebuah tanggung jawab kolektif untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur Bugis tidak tergerus zaman.

“Bone punya sejarah besar. Tradisi seperti ini adalah tali pengikat antara masa lalu dan masa depan. Jangan sampai anak cucu kita hanya mendengar dari cerita. Mereka harus menyaksikan dan memahami” tambahnya.

Mattompang Arajang sendiri adalah ritual tahunan menyambut Hari Jadi Bone, di mana ribuan benda pusaka peninggalan raja-raja Bone dibersihkan dengan air bunga, dibalut kain putih, dan diiringi doa-doa adat.

Prosesi ini sudah berlangsung ratusan tahun, dan menjadi bagian penting dari upaya pelestarian budaya Bugis.

Tak hanya dilakukan di museum, pada keesokan harinya, Kamis (10/4/2025), ATW kembali hadir di Mattompang Akbar yang digelar di Lapangan Merdeka Watampone.

Sebanyak 10 ribu bilah benda pusaka dikumpulkan dari berbagai penjuru Bone, disucikan secara massal oleh para pencinta budaya dan kolektor pusaka.

“Saya salut, masyarakat begitu antusias. Ini bukan sekadar budaya, ini napas kita,” ujarnya di sela acara.

Keterlibatan ATW dalam dua hari prosesi berturut-turut memperkuat citranya sebagai pemimpin yang tak hanya duduk di balik meja parlemen, tetapi juga turun langsung ke lapangan menjaga denyut budaya.

Ia bahkan dikenal luas sebagai kolektor dan pemerhati benda pusaka kerajaan.

Prosesi Mattompang Arajang mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk akademisi, budayawan, hingga tokoh adat.

Banyak yang menilai kehadiran pejabat seperti Ketua DPRD Bone memberi makna tersendiri, karena menunjukkan bahwa tradisi tak hanya hidup di tengah masyarakat, tapi juga di jantung pemerintahan.

“Ketika pemimpin daerah ikut menyentuh benda pusaka, itu simbol keberlanjutan. Pemerintah dan masyarakat harus jadi satu tubuh dalam menjaga budaya,” kata La Baco, tokoh adat asal Palakka.

Dengan semangat pelestarian yang makin kuat, Mattompang Arajang tak lagi sekadar ritual tahunan, tapi juga momentum kebangkitan identitas Bugis Bone.

Dan dalam barisan yang menyucikan pusaka itu, perempuan bernama Andi Tenri Walinonong berdiri tegak, seakan mengirim pesan bahwa menjaga warisan leluhur adalah bentuk cinta paling hakiki terhadap tanah lahir. (*)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *