Example floating
Example floating
banner 970x200
Nasional

Suara Jemaat Didengar, Polisi Sulsel Tanggapi Langsung di Gereja

141
×

Suara Jemaat Didengar, Polisi Sulsel Tanggapi Langsung di Gereja

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JURNALPOLRI.MY.ID, Makassar – Suasana hangat terasa di Gereja Toraja Makassar, Kamis (10/4/2025) sore. Tak hanya jemaat yang berkumpul untuk beribadah, tapi juga Tim Minggu Kasih dari Polda Sulawesi Selatan yang hadir membawa semangat keterbukaan dan silaturahmi.

Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan biasa, tapi forum langsung untuk mendengar suara hati masyarakat—kritik, saran, hingga curhatan sekalipun, semua diterima dengan tangan terbuka.

banner 300x600

Dipimpin langsung oleh Kasubdit Polmas Ditbinmas Polda Sulsel, AKBP Daniel Siampa, S.H., M.H., dan didampingi oleh Paursibinlat Subdit Satpam AKP Selvy, Tim Minggu Kasih kembali menyapa jemaat setelah kunjungan sebelumnya mendapat sambutan positif.

“Kita datang bukan hanya untuk mendengar, tapi juga menindaklanjuti. Kalau ada yang dulu sudah disampaikan, kita cek apakah sudah ditindaklanjuti. Kalau ada keluhan baru, silakan disampaikan,” ujar AKBP Daniel, membuka forum dengan gaya bicara khas Bugis-Makassar yang hangat dan bersahaja.

Tak butuh waktu lama, warga pun mulai angkat tangan. Pak Junda, salah satu jemaat, jadi yang pertama menyampaikan uneg-uneg.

Ia mengaku puas atas respon cepat dari kepolisian terhadap keluhan sebelumnya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal.

“Kalau bisa, jalan poros ke Lanraki itu dijaga pak. Jam-jam tertentu, terutama saat bus lewat, itu pasti macet. Kalau ada polisi yang atur, pasti lebih lancar,” ujarnya yang langsung disambut anggukan beberapa jemaat lain.

Curhatan lain datang dari Pak Febrico. Ia menyarankan agar selain pengaturan lalu lintas, petugas juga merazia anak-anak muda yang sering nongkrong di pinggir jalan.

“Sering sekali itu anak-anak nongkrong di pinggir jalan, stanplas begitu saja. Kadang sampai tengah malam. Kalau bisa, itu juga diawasi,” ucapnya.

AKBP Daniel menyimak setiap saran dengan seksama. Ia memastikan bahwa kritik bukan dianggap sebagai gangguan, melainkan bahan bakar untuk perbaikan.

“Justru kita senang kalau masyarakat mau bicara langsung. Kita ini pelayan publik, jadi harus siap dikritik. Tapi harapan kami, kritik juga disertai solusi. Sama-sama jaga Makassar ini,” ujar perwira menengah berpangkat dua melati itu.

Ia juga kembali mengingatkan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga Harkamtibmas (Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat).

Menurutnya, keamanan bukan hanya tanggung jawab polisi, tapi seluruh elemen warga.

Usai sesi tanya jawab yang penuh keakraban, suasana ditutup dengan foto bersama. Senyum lebar terpancar dari wajah para jemaat dan anggota tim, menandakan bahwa forum ini bukan sekadar formalitas, tapi jembatan nyata antara polisi dan rakyat.

Dengan berjabat tangan dan saling mendoakan, acara Minggu Kasih hari itu jadi bukti bahwa ruang dialog terbuka masih sangat dibutuhkan.

Kritik tak lagi dianggap ancaman, tapi justru pelita di tengah tantangan pelayanan publik. (*)

Fachry_Binmas

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *