Example floating
Example floating
banner 970x200
Headline

Langkah Kecil dari Timur yang Menggetarkan Jakarta

113
×

Langkah Kecil dari Timur yang Menggetarkan Jakarta

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, JURNALPOLRI.MY.ID — Jakarta selalu punya caranya sendiri menyambut tamu. Kadang dengan hujan, kadang dengan panas yang menggigit. Tapi bagi dua puluh empat wartawan dari tanah Bugis, ibu kota bukan sekadar tempat pertemuan. Ia jadi panggung kecil untuk membuktikan bahwa semangat dari timur pun bisa menembus riuhnya pusat negeri.

Penulis: Iwan Setiawan

banner 300x600

Saya melihat mereka berangkat. Satu per satu menaikkan koper. Tak ada protokol. Tak ada sambutan. Hanya tawa, doa, dan langkah-langkah yang terasa ringan tapi dalam.

Mereka menyebut diri IWO Sidrap — Ikatan Wartawan Online Kabupaten Sidenreng Rappang.
Jumlahnya dua puluh empat orang. Termasuk beberapa jurnalis dari Wajo yang bergabung.
Tidak besar, tapi penuh arti.

“Bukan cuma Rakernas,” kata ketua mereka, Edy Basri, pelan tapi tegas. “Kita mau belajar.”
Kalimat itu sederhana, tapi jadi semacam kompas untuk perjalanan mereka.

Bus Pemkab Sidrap berangkat pagi-pagi. Jalan panjang dari Pangkajene ke Makassar terasa seperti pembuka kisah panjang. Di dalam bus, ada lagu Bugis yang diputar pelan. Ada kopi yang dibagi dalam gelas plastik. Ada canda yang menutupi rasa lelah.

Hotel Asia jadi tempat singgah malam pertama.
Sebagian tak bisa tidur. Mungkin bukan karena kasur yang keras. Tapi karena pikiran mereka sudah lebih dulu sampai di Jakarta.

Pelabuhan Makassar ramai pagi itu. Udara asin, suara peluit kapal, dan langkah kaki yang terburu.
Beberapa dari mereka baru pertama kali naik kapal besar. Beberapa lainnya baru pertama kali meninggalkan Sulawesi. Tapi tak ada yang mundur.

“Perjalanan ini kayak jadi wartawan,” bisik seorang di antara mereka. “Kadang goyang, tapi tak boleh berhenti.”

Kapal melaju. Laut bergelombang kecil. Di dek, mereka berfoto bersama. Ada yang memandangi langit. Ada yang menulis catatan. Ada pula yang diam, mungkin sedang berpikir tentang berita apa yang akan lahir dari perjalanan ini.

Empat hari mereka di Jakarta.
Hotel Mega Cikini jadi tempat pertama mereka menaruh lelah. Lalu pindah ke Mess Pemkab Sidrap di Cempaka Putih. Di sana mereka serasa punya rumah sendiri.

Rakernas III IWO digelar di Balai Ismail Marzuki. Gedung itu megah, tapi pagi itu tampak lebih hidup karena rombongan kecil dari Sidrap itu datang.

Saya melihat Edy berdiri di depan. Matanya menyapu barisan anggotanya. “Ingat,” katanya pelan, “kita bukan tamu. Kita bagian dari rumah besar ini.”

Dan memang begitu. Di dalam forum, suara Sidrap terdengar jernih. Tidak paling keras, tapi paling tulus.
Mereka bicara tentang peran jurnalis daerah. Tentang tantangan media kecil di era serba cepat. Tentang menjaga idealisme, meski di tengah keterbatasan.

Usai sidang, mereka sempat bertemu Jenderal (Purn.) Agus Andrianto, kini Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Ada juga anggota DPR lintas fraksi yang mereka sambangi di sela waktu.
Beberapa wartawan tampak canggung. Tapi mata mereka bersinar. Ini kali pertama sebagian besar dari mereka berbicara langsung dengan pejabat pusat.

Rombongan wartawan IWO Sidrap saat mengikuti kegiatan di Jakarta mengenakan seragam hijau, menunjukkan semangat dan kekompakan dalam Rakernas III IWO 2025.
Para wartawan IWO Sidrap berpose di sela kegiatan Rakernas III IWO di Jakarta, menandai semangat kebersamaan dan tekad belajar dari jantung ibu kota. 📸✨

Namun, naluri wartawan tak pernah hilang. Begitu keluar dari forum, ponsel dibuka. Catatan diketik. Foto dikirim.
Berita mengalir dari Jakarta ke Sidrap. Cepat, bersih, bersemangat.

Jakarta bukan cuma gedung tinggi dan lalu lintas padat. Ia juga ruang belajar. Di sela Rakernas, mereka menelusuri Kota Tua.
Menyusuri Tanah Abang.
Masuk ke Studio 5 Indosiar.
Berhenti lama di Sarinah, menatap wajah kota dari lantai dua.

Semua direkam. Dengan kamera. Dengan hati.
“Jakarta ternyata tak semenakutkan itu,” ujar seorang anggota. “Cuma lebih cepat dari kita.”

Di sela-sela perjalanan, justru hal-hal kecil yang paling berkesan.
Satu koper tertinggal.
Seseorang mabuk laut.
Ada yang kehilangan topi di pelabuhan.
Tapi di antara tawa itu, lahir rasa persaudaraan.
Mereka menunggu satu sama lain. Saling bantu. Saling tenangkan.

Itulah yang membuat rombongan ini hidup — bukan fasilitas, tapi kebersamaan.

Menjelang pulang, malam di Cempaka Putih terasa hangat.
Edy mengumpulkan semuanya di lobi mess. Ia bicara pelan, tapi setiap kata terasa menancap.

“Kita pulang dengan koper yang sama,” katanya, “tapi kepala kita harus lebih penuh.”

Mereka mengangguk.
Koper diangkat. Kamera disimpan. Tapi di dalam diri mereka, ada yang berubah.
Mereka tidak lagi sekadar wartawan daerah.
Mereka kini tahu, bahwa suara dari pinggir pun bisa sampai ke pusat.

Ketika bus melaju ke Tanjung Priok, lampu-lampu Jakarta bergeser di jendela.
Kota itu perlahan mengecil di balik kaca. Tapi di dada dua puluh empat orang itu, ada sesuatu yang justru membesar — keyakinan.

Bahwa pena kecil dari timur masih bisa menulis sejarah.
Bukan dengan tinta, tapi dengan keberanian.

Dan saya tahu, di hari itu, Sidrap baru saja menulis satu bab penting dalam perjalanan IWO di tanah air. Bab yang dimulai dari semangat, bukan seremoni. (*)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *