Example floating
Example floating
banner 970x200
Berita

Menembus Rimba Demi Kemanusiaan, Dai Pedalaman Wahdah Islamiyah Evakuasi Ibu Hamil di Pedalaman Balingintanon

118
×

Menembus Rimba Demi Kemanusiaan, Dai Pedalaman Wahdah Islamiyah Evakuasi Ibu Hamil di Pedalaman Balingintanon

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Bangketa, JURNALPOLRI.MY.ID — Di balik lebatnya hutan dan derasnya arus sungai di pedalaman Balingintanon, kisah kemanusiaan yang mengharukan terjadi. Tim Wahdah Peduli Kabupaten Banggai, yang dipimpin oleh Abu Kholid, berjuang menembus medan berat demi menyelamatkan seorang ibu hamil bernama Matii, yang telah dua bulan menderita sakit tanpa akses bantuan medis.

Ekspedisi kemanusiaan ini dimulai pada Senin, 3 November 2025. Berawal dari informasi yang diterima sehari sebelumnya, Ahad, 2 November, Abu Kholid bersama tim langsung berinisiatif untuk bergerak cepat menuju Desa Bangketa, lalu melanjutkan perjalanan menuju kawasan pegunungan Balingintanon — tempat keluarga Matii bermukim jauh dari fasilitas kesehatan.

banner 300x600

Perjalanan bukanlah hal mudah. Dua hari lamanya tim harus menghadapi medan yang sangat ekstrem — menyeberangi sungai besar berarus deras, melewati tanah licin dan terjal, serta bahkan terjebak banjir di tengah perjalanan. Namun semangat kemanusiaan membuat mereka tak menyerah.

Tandu rotan tradisional, tongkat kayu, serta perlengkapan lapangan digunakan oleh relawan Wahdah Peduli untuk menembus arus sungai dan medan ekstrem dalam misi kemanusiaan.
Tim Wahdah Peduli Banggai menyeberangi sungai berarus deras di pedalaman Balingintanon saat menjalankan misi penyelamatan ibu hamil yang sakit parah di tengah keterisolasian.

Setibanya di lokasi, tim Wahdah Peduli segera memberikan penanganan medis ringan kepada Ibu Matii. Kondisinya saat itu sangat lemah akibat dua bulan menahan sakit di tengah keterbatasan.

Setelah dilakukan perawatan dan pemantauan selama tiga hari, tim akhirnya memutuskan untuk melakukan evakuasi pada Kamis, 6 November 2025.

Dengan penuh kehati-hatian dan kepedulian, Ibu Matii dimasukkan ke dalam “KAI” — tandu tradisional dari rotan, lalu dibawa turun gunung melewati jalur ekstrem menuju Luwuk, tempat dokter kandungan telah disiapkan untuk menanganinya.

“Ini bukan sekadar misi kemanusiaan, tapi panggilan hati. Dua nyawa menunggu pertolongan, dan kami tidak bisa berpaling,” tutur Abu Kholid, Ketua Wahdah Peduli Banggai, dengan suara bergetar setelah evakuasi berhasil dilakukan.

Perjalanan panjang ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sejati tidak mengenal jarak, cuaca, maupun medan. Di balik setiap langkah berat yang diambil para relawan, tersimpan doa dan harapan agar setiap nyawa berharga bisa terselamatkan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *