SIDRAP, JURNALPOLRI.MY.ID — Siang itu, Selasa (24/03/2026), Aula Makodim 1420/Sidrap tak biasa. Pukul 14.18 WITA, langkah-langkah prajurit berbaris rapi.
131 personel hadir. Satu komando. Satu arah.
Dipimpin Dandim, Andi Zulhakim Asdar, S.H.I., M.H.I.
Apel bukan sekadar formalitas. Ini tentang kembali. Dan tentang pergi lagi.
Cuti gelombang satu pulang, gelombang dua bersiap jalan.
Suara Dandim tenang, namun tegas.
Terima kasih, katanya, untuk yang kembali tepat waktu, tanpa pelanggaran, tanpa cela.
Lalu pesan itu datang—pelan, tapi dalam.
“Kunci rumahmu, matikan listrikmu, jangan abaikan hal kecil. Karena satu kelalaian, bisa jadi api. Dan api pernah bicara—satu rumah hangus,
dua terdampak, satu kendaraan lenyap.”
Hening sejenak, pesan berikutnya lebih tajam. Untuk yang akan berangkat, jaga diri, jaga nama, jaga satuan. Di luar dinas, tetap prajurit, tetap cermin institusi. Disiplin bukan pilihan, ia kewajiban. Dan profesionalisme—adalah harga diri.
Di tengah barisan, nuansa berubah. Bukan hanya perintah, ada ketulusan. Dandim meminta maaf, atas khilaf yang mungkin ada. Tak resmi halal bihalal, tapi hati tetap bersalaman. Karena saling memaafkan, tak butuh panggung.
Data pun berbicara, 82 personel telah pulang, 83 kini bersiap melangkah. Dua gelombang, satu tujuan—kembali dengan selamat.
Pukul 14.37 WITA, apel selesai. Singkat, tertib, lancar, namun maknanya panjang.
Di balik barisan itu, ada disiplin yang dijaga, ada tanggung jawab yang dibawa.
Dan ada satu pesan yang tertinggal—Prajurit boleh cuti, tapi nilai tak pernah pergi. (*)















