Sidrap, JURNALPOLRI.MY.ID – Perjuangan keluarga Muhammad Taufik mencari keadilan akhirnya mencapai titik paling menentukan. Makam narapidana Rutan Kelas IIB Sidrap itu dibongkar di Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase, Senin pagi (30/3/2026).
Pembongkaran makam dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kematian Taufik yang hingga kini masih menyisakan misteri. Keluarga menolak menerima begitu saja versi bunuh diri yang sempat beredar sejak awal.
Di lokasi, suasana tampak sunyi namun penuh ketegangan. Garis polisi dipasang mengelilingi area makam, sementara tim Dokpol dari Polda Sulawesi Selatan mulai melakukan ekshumasi dan otopsi.
Keluarga korban meyakini ada kejanggalan pada tubuh Taufik. Mereka mengaku melihat luka lebam dan luka di bagian kepala yang dianggap tidak wajar jika dikaitkan dengan dugaan bunuh diri.
Tangis keluarga pecah saat proses pembongkaran makam dimulai. Sang istri, Hati, terlihat berdiri tak jauh dari lokasi sambil menahan kesedihan. Baginya, proses itu bukan hanya membuka tanah makam, tetapi juga menghidupkan kembali luka yang belum sempat sembuh.
Keluarga besar korban dari Sidrap hingga Gowa ikut berkumpul di lokasi. Salah satu yang hadir adalah Safaruddin Daeng Nompo, paman korban yang sejak malam sebelumnya telah berada di Desa Bila Riase.
Namun, ibu kandung korban, Jumasari Daeng Kanang, tidak diizinkan hadir. Keluarga khawatir ia tidak akan kuat menyaksikan proses yang begitu berat secara emosional.
“Kami takut dia tidak kuat,” ujar Daeng Nompo.
Sekitar pukul 09.28 WITA, usai doa bersama, tim forensik dengan APD lengkap masuk ke dalam tenda putih bersekat biru yang dipasang di atas makam. Di balik tenda tertutup itu, bukan hanya jasad yang diperiksa, tetapi juga seluruh dugaan dan narasi yang selama ini berkembang.
Ekshumasi dan otopsi menjadi langkah penting untuk mencari jawaban ilmiah. Apakah Taufik benar mengakhiri hidupnya sendiri, atau justru ada dugaan kekerasan yang selama ini tersembunyi.
Setiap luka dan jejak pada tubuh korban akan diperiksa secara detail oleh tim forensik. Hasil dari proses inilah yang nantinya menjadi dasar utama untuk menentukan fakta sebenarnya.
Kasus ini kini memasuki fase sensitif. Jika hasil otopsi mengarah pada dugaan penganiayaan, maka perkara ini berpotensi berkembang lebih besar dan menyeret banyak pihak. Namun jika hasilnya sesuai versi awal, keluarga harus menerima kenyataan pahit dengan bukti yang tidak terbantahkan.
Hingga siang hari, tim Dokpol masih bekerja di dalam tenda tertutup. Sementara itu, keluarga terus menunggu dengan harapan satu hal: kebenaran tentang bagaimana Muhammad Taufik meninggal. (*)















