MAKASSAR, JURNALPOLRI.MY.ID — Kabupaten Pinrang kembali mencuri perhatian dalam perhelatan kurban tingkat nasional. Seekor sapi jumbo milik peternak lokal, Sudarmin, diproyeksikan menjadi bagian dari hewan kurban Presiden untuk wilayah Sulawesi Selatan.

Sapi tersebut bukan sembarang ternak. Dengan bobot yang hampir menyentuh 1 ton, hewan ini masuk kategori “super jumbo” dalam standar peternakan daerah. Tubuhnya besar, berotot, dan menunjukkan kualitas genetik unggul yang jarang ditemukan di pasar umum.

Di tengah program penyaluran 25 ekor hewan kurban Presiden untuk Sulsel, keberadaan sapi dari Pinrang ini menjadi sorotan tersendiri. Program yang dikoordinasikan oleh Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdaprov Sulsel itu memang menetapkan syarat ketat, salah satunya bobot minimal 1 ton.

Kepala Biro Kesra Setdaprov Sulsel, Andi Munawir, menyebutkan bahwa tidak semua daerah mudah memenuhi standar tersebut. Namun kehadiran sapi dari Pinrang menjadi bukti bahwa peternak lokal mampu bersaing di level yang lebih tinggi.

Dalam istilah peternakan, capaian ini kerap disebut sebagai “upgrade kualitas breeding”—lonjakan mutu ternak dari skala lokal ke standar nasional. Fenomena ini sekaligus menjadi indikator bahwa sektor peternakan rakyat di Sulsel mulai naik kelas.

Sapi milik Sudarmin itu kini masuk dalam daftar kandidat kuat hewan kurban Presiden di Sulsel. Dari kandang sederhana di Pinrang, hewan ini melaju ke panggung yang lebih besar: program kurban tingkat negara.

Di tengah persiapan distribusi 25 ekor sapi ke 24 kabupaten/kota, kisah sapi jumbo dari Pinrang menjadi cerita yang menonjol. Bukan hanya soal ukuran, tetapi juga soal pembuktian bahwa peternak daerah bisa masuk dalam rantai program strategis nasional.

Jika resmi ditetapkan, sapi ini akan menjadi simbol kecil dari kolaborasi besar: antara peternak rakyat, pemerintah daerah, dan program kurban Presiden yang menjangkau hingga pelosok Sulawesi Selatan. (*)