JURNALPOLRI.MY.ID, Takalar – Pagi itu, Jum’at (11/5/2025), Dusun Bontolanra di Desa Bontolanra, Kecamatan Galesong Utara, Takalar, mendadak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ada hajatan, tapi karena semangat gotong royong yang kembali menyala.
Di pinggir jalan desa yang biasanya hanya dilintasi motor dan warga pulang dari sawah, pagi itu terlihat deretan warga lengkap dengan cangkul, sapu lidi, dan semangat yang tak bisa disembunyikan.
Di antara mereka, tampak sosok Bhabinkamtibmas Desa Bontolanra, Aiptu Arifin, yang ikut larut dalam kerja bakti membersihkan lingkungan.
Tak sendirian, Aiptu Arifin bahu-membahu bersama Kepala Desa, Babinsa, Kepala Dusun, staf desa, dan warga sekitar.
Fokus mereka: membersihkan bahu jalan dan saluran drainase dari tumpukan sampah dan rumput liar yang selama ini mengganggu kenyamanan desa.
“Ini bukan cuma soal sampah. Ini soal kebersamaan,” celetuk salah satu warga yang ikut mengayunkan parang kecil untuk merapikan semak di pinggir jalan.
Bagi Aiptu Arifin, momen seperti ini bukan sekadar rutinitas. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan pesan penting soal keamanan.
Di tengah istirahat sejenak sambil menyeruput air mineral, ia mengingatkan warga agar tidak lengah terhadap potensi gangguan Kamtibmas.
“Kebersihan dan keamanan itu satu paket. Kalau lingkungan bersih tapi hati kita was-was, ya tetap nggak tenang,” ujar Arifin kepada warga yang mengangguk penuh setuju.
Ia menegaskan bahwa menjaga keamanan desa bukan hanya tugas aparat, tapi tanggung jawab bersama.
“Kalau kita semua peduli, desa kita pasti aman dan nyaman buat semua,” tambahnya.
Apa yang dilakukan pagi itu memang terlihat sederhana, tapi dampaknya luar biasa.
Jalanan desa kini tampak lebih bersih, saluran air lebih lancar, dan yang paling penting: kebersamaan antarwarga dan aparat terasa makin kuat.
Warga pun menyambut baik inisiatif ini. Beberapa di antaranya berharap kegiatan serupa bisa dilakukan secara rutin, bukan hanya saat ada imbauan dari aparat.
“Kalau tiap bulan begini, desa kita pasti makin adem,” ucap seorang ibu sambil tersenyum.
Hari itu, Dusun Bontolanra membuktikan bahwa menjaga desa tak harus lewat rapat panjang atau anggaran besar. Cukup dengan alat sederhana, niat tulus, dan hati yang sama-sama ingin desa lebih baik.
Dan pagi itu, di sudut kecil Takalar, semangat itu terlihat jelas: menyatu dalam debu, keringat, dan tawa bersama.
(Asw-19)















