Sidrap, JURNALPOLRI.MY.ID – Pagi ini, Rabu 30 April 2025, langit di Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap, tampak cerah. Udara segar menembus sela-sela pepohonan yang mulai tumbuh.
Namun bukan langit yang jadi pusat perhatian, melainkan derap langkah para Babinsa yang datang bukan untuk patroli, tapi membawa harapan dalam bentuk bibit pohon.
Dipimpin langsung oleh Serma Afsalul Rahman, yang juga menjabat sebagai Bamin Ramil 1420-05/Dua Pitue, para prajurit TNI ini memulai aksinya: menanam pohon demi menyelamatkan ekosistem yang mulai kritis.
“Ini bukan sekadar tanam pohon. Ini misi penyelamatan,” tegas Serma Afsalul di sela-sela kegiatan.
Ia menuturkan bahwa pohon bukan hanya penghias lingkungan. Lebih dari itu, pohon adalah benteng alami terakhir dalam menyerap karbondioksida (CO2), serta pemasok utama oksigen yang vital bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lain.
“Bayangkan, satu pohon bisa menyerap hingga 20 kg CO2 per tahun. Itu bukan angka kecil,” tambahnya.
Tak sekadar menanam, para Babinsa juga terlibat penuh dalam pembersihan area, penggalian lubang tanam, hingga memastikan lokasi bebas dari sampah dan semak yang bisa mengganggu pertumbuhan.
“Aksi kami ini total. Bukan proyek seremonial. Setelah tanam, tugas belum selesai. Kami komitmen merawat, bahkan jika perlu, akan kami ganti pohon yang mati dengan sistem tambal sulam,” lanjut Serma Afsalul dengan nada lantang.
Gerakan ini, katanya, adalah bentuk konkret TNI hadir bukan hanya dalam urusan keamanan, tapi juga keberlanjutan lingkungan. Desa Bila Riase dipilih sebagai titik awal, namun langkah ini tak akan berhenti di sini.
“Apa gunanya stabilitas jika lingkungan kita rusak? Hijau itu pertahanan jangka panjang,” tandasnya.
Warga desa pun menyambut kegiatan ini dengan antusias. Mereka tak hanya menonton, tapi ikut mencangkul, membawa air, hingga memindahkan bibit dari truk ke lokasi tanam.
Sinergi antara Babinsa dan masyarakat menjadi bukti bahwa penyelamatan lingkungan adalah tugas bersama.
Dengan langkah ini, Sidrap tak hanya menanam pohon—mereka sedang menanam harapan.
Sebuah pesan keras bahwa perubahan tak selalu datang dari atas. Terkadang, perubahan besar justru dimulai dari linggis kecil dan niat besar di baliknya.
“Tanam pohon, tanam harapan,” ucap Serma Afsalul, yang kini tak hanya dikenal sebagai prajurit, tapi juga pejuang hijau dari Desa Bila Riase. (*)















