Example floating
Example floating
banner 970x200
Nasional

Darah di Rest Area: Misteri di Balik Moncong Senapan

231
×

Darah di Rest Area: Misteri di Balik Moncong Senapan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JURNALPOLRI.MY.ID, Jakarta – Rest area Kilometer 45 Tol Tangerang-Merak berubah menjadi saksi bisu tragedi yang menorehkan luka di awal tahun.

Dalam gelapnya malam 2 Januari 2025, suara letusan senjata memecah kesunyian, meninggalkan sosok Ilyas Abdurrahman terkulai tak bernyawa di samping mobil rental miliknya.

banner 300x600

Insiden ini menyeret tiga prajurit TNI AL ke pusaran hukum. Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Danpuspomal), Laksamana Muda TNI Samista, tak menampik keterlibatan mereka.

Sertu AA, Sertu RH, dan KLK BA kini telah mengenakan rompi tersangka, menanti roda peradilan militer yang akan menentukan nasib mereka.

“Bukti-bukti yang cukup telah kami kantongi. Ketiganya resmi dalam penyidikan,” tegas Samista dalam konferensi pers, Senin (6/1/2025).

Namun, di balik palu keadilan, terdapat dua narasi yang saling beradu. Kapolda Banten, Irjen Pol Suyudi Ario Seto, menelusuri jejak dari dugaan penggelapan mobil.

Kisah bermula ketika Honda Brio milik Ilyas disewakan kepada pria berinisial IH, yang ternyata berbekal identitas palsu. Mobil tersebut berpindah tangan, dijual dari RH ke IS, dan akhirnya berlabuh di tangan Sertu AA seharga Rp 40 juta.

Ilyas dan anaknya, Agam, yang tak rela kehilangan asetnya, memutuskan berburu secara mandiri. GPS menjadi kompas mereka, hingga jejak kendaraan berakhir di rest area naas tersebut. Di sanalah, ketegangan memuncak.

“Ada tarik-menarik di lokasi. Ini yang diduga memicu penembakan,” ungkap Suyudi.

Namun, Panglima Komando Armada (Koarmada) RI, Laksamana Madya TNI Denih Hendrata, menyampaikan kronologi yang berbeda. Menurut Denih, malam itu adalah panggung kekerasan terhadap anggotanya.

“Tiga prajurit kami dikeroyok oleh 15 orang. Penembakan terjadi dalam upaya membela diri,” kilahnya.

Dua sudut pandang ini ibarat dua arus sungai yang bertemu di muara tragedi. Polisi memandangnya sebagai kasus penggelapan yang berakhir konfrontasi, sementara TNI AL melihatnya sebagai bentuk pembelaan diri dari amukan massa.

Meski narasi berbeda, satu hal yang menjadi titik temu: darah Ilyas tertumpah, dan satu nyawa melayang.

“Tidak ada yang ditutup-tutupi,” kata Denih, seakan menegaskan bahwa institusinya tak akan melindungi yang bersalah.

TNI AL dan Polri sepakat, hukum akan berjalan sebagaimana mestinya, meski pelakunya adalah prajurit yang seharusnya menjaga ketertiban, bukan justru menciptakan kekacauan.

Kini, masyarakat menanti keadilan yang kerap berjalan tertatih di tengah simpang siur kebenaran. Kasus ini bukan sekadar soal peluru yang melesat, tapi juga cermin integritas penegak hukum.

Di atas hamparan aspal rest area itu, jejak Ilyas mungkin telah pudar, namun bayangannya akan terus menyertai jalannya pengadilan. (*)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *