JURNALPOLRI.MY.ID, Tasikmalaya – Sevina Azahra (14), remaja asal Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, kini perlahan memulihkan diri dari tragedi di Pantai Pangandaran. Selasa (7/1/2025)
Meski perban di tangannya masih menjadi saksi bisu perawatan medis, ia menyambut setiap detik kehidupannya dengan rasa syukur yang mendalam, mengenang pengorbanan besar seorang pahlawan yang menyelamatkannya.
“Awalnya saya hanya berenang di pinggir pantai bersama keluarga,” ujar Sevina, mengenang peristiwa Jumat sore itu. Jam menunjukkan pukul 15.30 WIB saat ombak mulai menariknya perlahan.
Apa yang awalnya terasa seperti percikan permainan berubah menjadi ketakutan saat pijakan di bawahnya lenyap tanpa peringatan.
“Pelan-pelan terseretnya,” lanjut Sevina dengan suara bergetar. “Tahu-tahu, pas nginjek, sudah nggak ada.”
Panik melanda. Dia berusaha meminta tolong, tapi kekuatannya hampir habis.
Di tengah perjuangannya melawan derasnya arus, muncullah sosok penyelamat—Aipda Anumerta Anditia Munartomo (35).
“Saya sudah lemas, nggak tahu lagi harus bagaimana, lalu bapak polisi itu datang menolong saya,” kata Sevina, air matanya mulai mengalir.
Namun, aksi heroik itu menuntut harga yang terlalu mahal. Setelah mengangkat Sevina dari jeratan maut, kondisi Anditia melemah. Keduanya pingsan sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh perahu nelayan.
Sevina sadar di rumah sakit dengan tubuh penuh kelelahan, namun selamat. Sebaliknya, Aipda Anumerta Anditia menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan dunia setelah melaksanakan tugas terakhirnya sebagai pahlawan.
“Ternyata bapak polisi itu sudah nggak ada,” ucap Sevina dengan isak tangis. “Dia adalah pahlawan saya. Semoga beliau husnul khotimah.” Ucapannya penuh kesedihan namun sarat penghormatan.
Di sisi lain, Nia Puspita, ibu Sevina, tak mampu menyembunyikan rasa terima kasih yang mendalam. Baginya, pengorbanan Anditia adalah sebuah anugerah tak ternilai.
“Kami tak tahu harus bagaimana membalas kebaikan ini,” ujarnya dengan suara lirih. “Semoga almarhum diberi tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.”
Kisah ini adalah lebih dari sekadar sebuah tragedi di pantai. Ini adalah narasi tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta terhadap sesama manusia.
Nama Aipda Anumerta Anditia Munartomo akan terus dikenang, tidak hanya sebagai seorang polisi, tetapi juga sebagai pahlawan yang menyerahkan hidupnya untuk menyelamatkan masa depan seorang remaja. Dialah cahaya yang bersinar di tengah gulungan ombak. (*)















