Example floating
Example floating
banner 970x200
Berita

Mattompang 10.000 Bilah: Simfoni Pusaka dan Cinta Budaya di Jantung Bone

185
×

Mattompang 10.000 Bilah: Simfoni Pusaka dan Cinta Budaya di Jantung Bone

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JURNALPOLRI.MY.ID, Watampone – Rabu pagi (9/4/2025), Lapangan Merdeka Bone disulap menjadi lautan pusaka. Ribuan keris, tombak, hingga tameng berjajar rapi.

Di bawah langit yang bersahabat, bunyi gendrang mengiringi langkah ratusan Panre Bessi—tukang besi tradisional—dan Komunitas Pemerhati Pusaka yang hadir dari berbagai penjuru.

banner 300x600

Inilah Mattompang Akbar 10.000 Bilah, suguhan budaya kolosal dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Bone ke-695.

Bukan sekadar ritual membersihkan benda pusaka, Mattompang adalah perayaan spiritual, sosial, dan emosional yang mengikat masa lalu dengan masa kini.

Setiap bilah yang disucikan hari itu bukan hanya logam tajam, tetapi saksi bisu sejarah panjang tanah Bugis.

“Mattompang ini bukan cuma membersihkan besi, tapi membersihkan hati. Di sinilah kita menyatukan niat, semangat, dan tekad untuk Bone yang bermartabat,” ucap A. Tenri Polo Wija, Ketua Panitia Pelaksana, di hadapan ratusan hadirin yang memenuhi lapangan.

Semangat itu tampaknya benar-benar menyatu di udara. Dari 27 kecamatan di Bone hingga perwakilan luar daerah seperti Makassar, Wajo, Soppeng, Parepare, hingga Sinjai—semuanya tumplek blek di Bone.

Ada yang datang membawa pusaka warisan keluarga, ada pula yang sekadar ingin merasakan getaran budaya yang sudah jarang tersaji semegah ini.

Bupati Bone, A. Asman Sulaiman, S.Sos., MM. yang membuka langsung acara tersebut tak menyembunyikan kebanggaannya.

Dalam sambutannya, ia menyebut kegiatan ini sebagai bukti cinta masyarakat Bone terhadap akar budayanya yang kuat.

“Ini bukan sekadar perayaan, ini adalah panggilan jiwa. Saya apresiasi seluruh panitia dan peserta. Tahun depan, kita targetkan 100.000 bilah pusaka dan kita daftarkan ke MURI. Bone harus mendunia lewat budayanya,” tegas Bupati Asman, disambut riuh tepuk tangan peserta.

Ritual Mattompang sendiri memiliki akar sejarah yang panjang. Sejak masa Arung Palakka, Raja Bone ke-15 yang tersohor itu, budaya membersihkan pusaka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem nilai masyarakat Bone.

Selain simbol kekuasaan dan perlindungan, pusaka juga diyakini membawa doa keselamatan dan kejayaan.

Prosesi puncak diwarnai atraksi Gendrang Massal, dimainkan oleh 40 penabuh dari 15 sanggar seni.

Gemuruh gendang menembus ruang batin, mengajak semua yang hadir untuk larut dalam irama yang seolah membawa pulang pada masa kejayaan Bone tempo dulu.

Tak sedikit warga yang mengaku terharu. Salah satunya, Andi Baharuddin (52), seorang pemerhati budaya asal Soppeng yang membawa lima keris warisan keluarganya.

“Saya pernah ikut kegiatan seperti ini 10 tahun lalu. Tapi yang ini luar biasa. Terasa betul energinya. Saya bangga bisa jadi bagian dari sejarah Bone hari ini,” ujarnya sembari mengusap bilah kerisnya dengan kain putih.

Hal senada disampaikan Rahmawati (34), guru SD asal Palakka yang membawa serta murid-muridnya untuk belajar langsung tentang budaya.

“Anak-anak ini generasi digital. Kalau bukan kita yang perkenalkan budaya, siapa lagi? Mereka harus tahu bahwa di balik keris ada cerita, ada harga diri,” ucapnya sambil tersenyum.

Acara ditutup dengan doa adat dan tepukan gendang terakhir yang menggetarkan langit Bone. Tapi getarannya tak berhenti di situ—ia menyusup jauh ke hati, menegaskan bahwa pusaka bukan barang tua, tapi identitas yang terus menyala. (*)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *