JURNALPOLRI.MY.ID, Jayawijaya – Suasana berbeda terasa di Distrik Napua, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Anak-anak sekolah dasar di wilayah tersebut tampak sumringah, bukan karena libur sekolah, melainkan karena kedatangan “abang-abang TNI” dari Pos Napua Satgas Yonif 641/Beruang yang membawa kejutan menyenangkan: buku-buku pelajaran dan cerita gratis untuk mereka baca di rumah.
Kegiatan mulia ini berlangsung pada Minggu, 20 April 2025, sebagai bentuk kepedulian TNI terhadap peningkatan literasi dan semangat belajar anak-anak di pelosok negeri.
Puluhan buku diserahkan langsung kepada anak-anak di SD Distrik Napua oleh personel Pos, yang selama ini juga dikenal dekat dan akrab dengan warga sekitar.
Menurut Batih Pos Napua, Serka Akinsi, program pembagian buku ini tak hanya sebatas aksi simbolis.
Tujuannya jelas: membangkitkan minat baca sekaligus memperlancar kemampuan literasi anak-anak yang masih terbatas.
“Banyak dari mereka yang belum lancar membaca. Tapi semangat mereka luar biasa. Mereka sendiri yang minta diajari membaca oleh personel kami,” ungkap Serka Akinsi.
Anak-anak terlihat antusias menyambut kehadiran para prajurit. Beberapa bahkan langsung membuka buku dan mengeja kata demi kata, dibimbing langsung oleh anggota Pos yang sabar mendampingi mereka.
Salah satu anak, Wenli (14), dengan polosnya mengungkapkan rasa syukurnya. Ia mengaku senang mendapat buku baru dan bertekad untuk terus belajar membaca.
“Terima kasih abang sudah memberikan kami buku dan mengajarkan kami cara membaca. Kami akan datang terus ke Pos buat belajar dengan abang TNI,” ucapnya dengan senyum lebar.
Kegiatan ini bukan yang pertama kali dilakukan oleh Satgas Yonif 641/Bru. Sebelumnya, mereka juga aktif dalam berbagai aksi sosial seperti pelayanan kesehatan gratis dan membantu perbaikan fasilitas umum.
Namun program literasi ini punya makna khusus, karena menyentuh langsung aspek pendidikan yang selama ini masih jadi tantangan di pedalaman Papua.
Diharapkan, dengan upaya kecil namun konsisten ini, anak-anak Napua bisa lebih termotivasi untuk belajar dan bermimpi besar, sejajar dengan anak-anak lain di penjuru negeri.
Karena di balik seragam loreng dan sepatu lars, ada hati yang tulus mendidik, dan tangan yang tak hanya menjaga perbatasan, tapi juga menggandeng masa depan generasi bangsa. (*)















