JURNALPOLRI.MY.ID, Makassar – Suasana Aula Soebarka di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sulawesi Selatan terasa penuh wibawa pada Selasa (17/12/2024).

Ratusan pasang mata menatap lurus, dada mereka bergemuruh oleh pesan-pesan yang menggugah dari pucuk pimpinan tertinggi kepolisian Sulsel.

Di hadapan 854 siswa Diktuk Bintara Polri T.A 2024, Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol Yudhiawan, S.H., S.I.K., M.H., M.Si., menyampaikan pembekalan yang bukan sekadar nasihat, melainkan suluh untuk perjalanan panjang para calon penjaga hukum.

Dengan suara yang lantang, namun meresap hingga ke relung hati, ia menyampaikan bahwa jalan yang akan ditempuh bukanlah lintasan biasa, melainkan jalan pengabdian yang membutuhkan kejujuran, kehormatan, dan keteguhan.

“Kalian adalah harapan masyarakat, bangsa, dan negara. Jagalah integritas, jadilah penegak hukum yang adil dan bijaksana. Kepercayaan masyarakat adalah mahkota yang harus kalian kenakan dengan tanggung jawab,” ujar Kapolda, suaranya menggema di ruangan itu.

Panggung ini bukan hanya sekadar seremoni, tetapi momen sakral bagi 854 calon bintara yang sebentar lagi akan menyandang pangkat Brigadir Dua.

Wajah mereka tampak serius, seolah setiap kalimat Kapolda menjadi paku yang mengukuhkan komitmen mereka.

Dalam arahannya, Kapolda Sulsel menegaskan lima pilar yang harus menjadi pedoman hidup para bintara muda. Dengan bahasa yang tegas namun sarat makna, ia menyebutkan:

  1. Menjaga integritas sebagai pondasi utama pengabdian.
  2. Menegakkan hukum dengan adil tanpa pandang bulu.
  3. Menolak keras praktik KKN, suap, dan pungutan liar yang menjadi racun kepercayaan publik.
  4. Mengutamakan pelayanan berkualitas bagi masyarakat.
  5. Menjauhi sikap arogan serta gaya hidup mewah yang bisa meruntuhkan citra Polri.

Tak berhenti di situ, Kapolda menyentuh titik terpenting dalam pengabdian seorang anggota Polri.

“Dedikasi kalian bukanlah jalan menuju kekayaan materi, tetapi panggilan mulia untuk hidup bermartabat. Jangan pernah mengambil yang bukan hakmu, jauhi narkoba, dan jaga kehormatan institusi kita,” tegasnya, bagai palu godam yang mengetuk kesadaran para siswa.

Dalam suasana yang hening penuh refleksi, Kapolda Yudhiawan menyampaikan petuah terakhirnya. Ia menekankan bahwa menjadi seorang polisi adalah pilihan jalan hidup yang penuh tanggung jawab, bukan ladang untuk menumpuk kekayaan.

“Peliharalah pekerjaanmu, sekalipun itu tidak membuatmu kaya. Karena dari pekerjaan itulah kalian akan hidup dengan bermartabat, dihormati, dan dicintai masyarakat,” ucapnya, seolah membakar semangat juang mereka.

Pesan ini bukan sekadar untaian kata, melainkan kompas moral bagi 854 calon bintara.

Mereka diajak untuk menatap masa depan dengan mata penuh keyakinan, tangan penuh pengabdian, dan langkah penuh kebanggaan.

Di akhir arahannya, Kapolda Sulsel memompa motivasi terakhir. Ia mengingatkan bahwa kerja keras, cerdas, ikhlas, dan tuntas adalah kunci untuk mewujudkan visi besar bangsa.

“Kalian adalah bagian dari sejarah menuju Indonesia Emas 2045. Tugas kalian bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi penopang masa depan yang berkeadilan dan bermartabat,” ujar Kapolda penuh harap.

Sorak tepuk tangan bergemuruh, mengiringi akhir arahan yang sarat makna. Aula Soebarka tak hanya menjadi saksi pembekalan, tetapi juga menjadi medan tempaan mental para bintara muda.

Di bawah arahan Kapolda Sulsel, mereka ditempa untuk menjadi pribadi berintegritas, pilar kepercayaan masyarakat, dan penjaga negeri.

Bagi 854 calon brigadir, hari itu adalah awal sebuah babak baru. Jalan panjang telah terbentang, namun mereka tidak berjalan tanpa bekal.

Dengan amanah yang digenggam erat, mereka siap berlayar, menjaga keutuhan bangsa dengan jiwa dan raga—membuktikan bahwa mereka layak menyandang nama Polri dengan kehormatan yang tak ternilai. (*)