Wajo, Jurnalpolri.my.id — Langit pagi di persawahan Desa Liu, Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo, mendadak berubah muram, Kamis (11/6/2026). Di tengah hamparan padi yang mulai menghijau, seorang petani bernama AR (60) menghembuskan napas terakhir setelah tersambar petir saat berupaya menyelamatkan diri dari hujan.
Peristiwa memilukan itu terjadi sekitar pukul 08.00 WITA di area persawahan Kampung Batue, Dusun Botto Ulu. Pagi itu, AR yang merupakan warga Kampung Baru, Dusun Tosiang, Desa Bila, tengah menjalankan rutinitasnya sebagai petani dengan menyemprot tanaman padi di lahan miliknya.
Cuaca yang semula bersahabat tiba-tiba berubah. Awan gelap menggantung di langit, disusul hujan deras dan sambaran petir yang terdengar berulang kali. Untuk menghindari guyuran hujan, AR memilih berteduh di sebuah gubuk sederhana yang berdiri di tengah sawah.
Namun, tempat yang dianggap aman itu justru menjadi lokasi tragedi.
Sebuah sambaran petir menghantam area gubuk tempat AR berlindung. Kekuatan listrik dari alam tersebut membuat korban meninggal dunia seketika.
Beberapa saat kemudian, seorang warga bernama LN (55) yang melintas di sekitar lokasi menemukan AR sudah tergeletak di atas pondok sawah tanpa bergerak. Menyadari situasi darurat, ia bergegas menuju perkampungan untuk meminta pertolongan warga.
Tak lama kemudian, sejumlah warga berdatangan ke lokasi. Mereka berupaya memberikan bantuan, namun kondisi korban sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Mendapat informasi kejadian tersebut, Kapolsek Sabbangparu AKP Rezky G bersama personelnya langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan dan selanjutnya melayat ke rumah duka guna menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Dalam kesempatan itu, AKP Rezky mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap cuaca ekstrem yang belakangan kerap terjadi, terutama bagi warga yang bekerja di area terbuka seperti sawah, kebun, maupun lapangan.
“Apabila hujan disertai petir mulai terjadi, masyarakat sebaiknya segera menghentikan aktivitas dan mencari tempat yang benar-benar aman. Keselamatan harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa di balik kesibukan para petani menjaga ketahanan pangan, selalu ada risiko yang mengintai dari perubahan cuaca yang sulit diprediksi. Di tengah hamparan sawah yang menjadi sumber penghidupan, petir pagi itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga Desa Bila. (*)







Tinggalkan Balasan