Makassar — Pertarungan informasi di daerah tidak lagi hanya terjadi di ruang redaksi. Kini, ia bergeser ke media sosial, grup percakapan, hingga platform video pendek yang setiap hari membanjiri masyarakat dengan informasi yang belum tentu benar.

Di tengah situasi itu, Kolaborasi Jurnalis Indonesia (KJI) Sulawesi Selatan mulai memperluas jaringan ke sejumlah daerah. Setelah resmi terbentuk dan melantik kepengurusan di Kabupaten Wajo, organisasi tersebut kini membidik Soppeng, Pinrang, dan Palopo.

Langkah ini muncul saat profesi jurnalis menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kecepatan informasi sering kali mengalahkan akurasi. Konten viral kerap dipercaya lebih dulu dibanding berita hasil verifikasi.

Ketua KJI Sulsel, Edy Basri, menilai kondisi tersebut menjadi alarm bagi dunia jurnalistik daerah.

“Arus informasi saat ini luar biasa cepat. Tantangannya bukan lagi sekadar menyampaikan berita, tetapi memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya di Makassar, Sabtu, 8 Agustus 2026

Menurutnya, pembentukan kepengurusan di sejumlah daerah bukan sekadar memperbanyak struktur organisasi. Yang lebih penting adalah membangun benteng profesionalisme jurnalis di tengah meningkatnya penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Wajo menjadi daerah pertama yang berhasil membentuk kepengurusan dan telah menjalani proses pelantikan. Dalam waktu dekat, Soppeng akan menjadi daerah berikutnya yang masuk tahap pembentukan.

Setelah itu, Pinrang dan Palopo disiapkan sebagai titik penguatan jaringan KJI di Sulawesi Selatan.

Pilihan terhadap tiga daerah tersebut bukan tanpa alasan.

Soppeng dikenal memiliki dinamika sosial dan pemerintahan yang cukup tinggi. Pinrang merupakan salah satu pusat ekonomi dan pertanian terbesar di kawasan Ajatappareng. Sementara Palopo menjadi pusat aktivitas informasi dan pemerintahan di wilayah Luwu Raya.

Ketiganya dianggap memiliki kebutuhan besar terhadap penguatan ekosistem jurnalistik lokal.

Fenomena ini menarik perhatian karena terjadi di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap sebagian informasi digital yang beredar bebas tanpa proses verifikasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah survei nasional menunjukkan masyarakat semakin sulit membedakan antara berita, opini, propaganda, hingga konten yang sengaja dibuat untuk mengejar klik dan viralitas.

Di sisi lain, media lokal justru menghadapi tekanan ekonomi yang tidak kecil. Persaingan platform digital membuat banyak media daerah harus berjuang mempertahankan kualitas pemberitaan dengan sumber daya terbatas.

Karena itu, penguatan organisasi profesi dinilai menjadi salah satu jalan untuk menjaga standar jurnalistik tetap hidup di daerah.

“Kami ingin jurnalis daerah tidak berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi menjadi penting agar kualitas informasi publik tetap terjaga,” kata Edy.

Ekspansi KJI ke Soppeng, Pinrang, dan Palopo menjadi sinyal bahwa pertarungan informasi di daerah memasuki babak baru.

Bukan lagi soal siapa yang paling cepat menyebarkan kabar.

Tetapi siapa yang paling dipercaya masyarakat saat fakta dan rumor saling berebut perhatian.

Dan di tengah banjir informasi yang semakin sulit dikendalikan, kepercayaan publik bisa jadi menjadi komoditas paling mahal yang sedang diperebutkan. (*)