Sidrap — Dari langit mereka datang.
Satu per satu penerjun keluar dari pesawat. Tubuh mereka melayang di udara, kanopi parasut mengembang, lalu perlahan turun menuju drop zone di Kanyuara, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Tetapi begitu kaki para prajurit menyentuh tanah, yang berdiri menyambut bukan hanya sesama tentara.
Ada dua figur penting di garis depan.
Dandim 1420/Sidrap Letkol Inf. Andi Zulhakim Asdar, S.H.I., M.H.I.
Dan Kapolres Sidrap AKBP Indra Waspada Yuda, S.I.K., M.H.
Keduanya menerima langsung para penerjun yang baru saja menuntaskan penerjunan.
Di samping mereka, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, S.I.P., M.M. ikut menyambut.
Pemandangan itu sederhana.
Tetapi pesannya kuat.
Prajurit datang dari udara.
Dandim menyambut dari darat.
Kapolres berdiri di garis yang sama.
Bupati hadir di tengah-tengahnya.
Seperti sebuah pesan visual bahwa ketika negara menggelar latihan di daerah, bukan hanya militernya yang bekerja. Pemerintah daerah dan masyarakat ikut menjadi bagian dari ruang pertahanan itu sendiri.
Kamis, 10 September 2026, Kanyuara memang berubah menjadi panggung latihan pasukan lintas udara.
Sekitar 200 personel terlibat. Bersama unsur pendukung, jumlahnya mencapai sekitar 250 orang.
Mereka berasal dari Batalyon Infanteri 431, satuan di bawah Brigade Infanteri 3 jajaran Divisi Infanteri 3 Kostrad.
Pasukan ini harus selalu siap.
Bukan siap dalam arti sekadar apel pagi, lalu bubar.
Tetapi siap diterjunkan ke berbagai wilayah Indonesia ketika negara membutuhkan.
Karena itu, penerjunan adalah bagian penting dari kemampuan satuan.
Ada exit dari pesawat.
Ada penguasaan parasut.
Ada navigasi menuju landing point.
Ada ketepatan drop zone.
Dan ada satu hal yang tak boleh hilang: disiplin.
Salah sedikit membaca angin, posisi pendaratan bisa bergeser.
Salah memperhitungkan kondisi medan, risiko bisa meningkat.
Maka Kanyuara dipilih bukan secara kebetulan.
Wilayahnya cukup luas.
Medannya dinilai aman untuk latihan.
Dan yang paling penting: masyarakat serta pemerintah daerah memberikan ruang.
Di situlah peran Dandim 1420/Sidrap Letkol Inf. Andi Zulhakim Asdar menjadi menarik.
Sebagai Komandan Kodim, ia bukan sekadar berada di lokasi ketika kegiatan berlangsung. Ia menjadi salah satu simpul penting yang menghubungkan kebutuhan latihan militer dengan kondisi wilayah dan masyarakat.
Kapolres Sidrap AKBP Indra Waspada Yuda pun hadir dalam barisan yang sama.
TNI dan Polri berdiri berdampingan menyambut pasukan yang baru saja mendarat.
Tidak ada sekat.
Yang terlihat justru koordinasi.
Satu wilayah, satu panggung, satu kepentingan: memastikan kegiatan berjalan aman dan masyarakat dapat ikut merasakan kehadiran negara.
Bupati Syaharuddin Alrif juga hadir langsung.
Bahkan kegiatan tidak berhenti pada penerjunan.
Ada bakti sosial berupa pembagian sembako kepada masyarakat.
Ada pula panen raya bersama Bupati.
Di sinilah cerita Kanyuara menjadi lebih menarik.
Pasukan Kostrad datang untuk menguji kesiapan tempur.
Tetapi mereka juga menemukan sesuatu yang membuat Pangdivif 3 Kostrad Mayjen TNI Wulan Nur Yudhanto terkesan: ketahanan Sidrap menghadapi cuaca ekstrem.
Mayjen Wulan menyebut Sidrap memiliki kemampuan dan ketahanan yang cukup kuat menghadapi perkembangan situasi, khususnya cuaca ekstrem.
Ia bahkan membandingkan hasil panen.
Ketika sejumlah daerah pada musim El Nino hanya berada di kisaran 5 sampai 6 ton per hektare, Sidrap disebut mampu mencapai 11 ton per hektare.
Maka hari itu ada dua jenis “ketahanan” yang terlihat di Kanyuara.
Ketahanan prajurit menghadapi medan dan tugas operasi.
Ketahanan petani menghadapi cuaca dan musim.
Yang satu turun menggunakan parasut.
Yang satu lagi bertahan di sawah.
Dan di antara keduanya ada pemerintah daerah, TNI dan Polri yang berdiri bersama.
Menariknya, figur yang menerima para penerjun ketika kaki mereka menyentuh tanah justru Dandim dan Kapolres.
Bupati berada di sampingnya.
Seolah Kanyuara sedang mengatakan sesuatu dengan bahasa yang tidak perlu diterjemahkan.
Tentara punya langit.
Polisi punya darat.
Pemerintah punya rakyat.
Dan ketika ketiganya berdiri di satu titik, sebuah latihan militer bisa berubah menjadi peristiwa sosial yang jauh lebih besar.
Penerjun memang mendarat di Kanyuara.
Tetapi yang sebenarnya sedang diperlihatkan hari itu adalah bagaimana sebuah daerah menerima kehadiran pasukan negara dengan tangan terbuka.
Dandim menyambut.
Kapolres mengawal.
Bupati mendampingi.
Masyarakat menonton.
Prajurit mendarat.
Dan Sidrap kembali menunjukkan satu hal: wilayah ini bukan hanya punya ruang untuk pasukan terjun payung.
Ia juga punya ruang yang cukup luas untuk membangun sinergi.
Dari langit Kanyuara, parasut memang yang paling mudah dilihat.
Tetapi dari darat, yang paling menarik justru pemandangan tiga unsur berdiri dalam satu barisan.
TNI.
Polri.
Pemerintah daerah.
Menyambut mereka yang baru saja turun dari langit.
Ditulis oleh: Edy Basri (Pimpinan Redaksi Katasulsel.com)







Tinggalkan Balasan