MAKASSAR – Kabar gembira datang dari ranah literasi dan komunikasi publik Kota Makassar. Terpilihnya Kak Afrizal sebagai Duta Public Speaking Tingkat Kota Makassar adalah sebuah kemenangan kecil yang bermakna besar. Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang seringkali dangkal dan penuh hoaks, kehadiran seorang duta yang mampu merangkai kata, menyuarakan gagasan, dan menginspirasi melalui retorika yang elegan adalah oase yang sangat kita butuhkan. Selamat dan sukses, Kak Afrizal!

 

Namun, mari kita lihat lebih dalam. Gelar “Duta Public Speaking” bukanlah mahkota untuk dipamerkan di media sosial, melainkan tongkat estafet peradaban. Dalam tradisi lisan masyarakat Bugis-Makassar, passeng (pesan/nasihat) dan kemampuan berbicara di depan umum (mappabicara) adalah seni tinggi yang mengandung nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, dan keberanian. Ketika Kak Afrizal menyandang titel ini, ia tidak hanya mewakili dirinya sendiri, tetapi juga menjadi wajah dari ribuan pemuda Makassar yang rindu akan ruang ekspresi yang bermartabat.

 

Tiga Amanah Berat yang Harus Dipikul:

 

Mengubah Narasi dari “Banyak Bicara” Menjadi “Berbicara Bermutu”

Tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan lagi kurangnya suara, tetapi kebisingan tanpa substansi. Sebagai Duta, Kak Afrizal memiliki tanggung jawab moral untuk mendemonstrasikan bahwa public speaking bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, tetapi siapa yang paling dalam pesannya. Ia harus menjadi teladan dalam menggunakan logika, data, dan empati dalam setiap pidato atau presentasinya.

 

Membuka Akses bagi Suara-Suara yang Terpinggirkan

Seorang duta sejati tidak berbicara untuk rakyat, tetapi berbicara bersama rakyat. Kak Afrizal diharapkan tidak hanya tampil di panggung-panggung eksklusif, tetapi juga turun ke kampus-kampus pinggiran, komunitas akar rumput, dan ruang-ruang publik lainnya untuk melatih pemuda-pemuda lain yang mungkin belum memiliki kepercayaan diri. Jadikan keahlian ini sebagai alat pemberdayaan, bukan alat eksklusivitas.

 

Menjaga Integritas di Era Post-Truth

Kemampuan berbicara yang hebat bisa menjadi pisau bermata dua: bisa membangun jembatan, tapi juga bisa menghancurkan reputasi jika digunakan untuk manipulasi. Kak Afrizal harus menjadi benteng integritas. Setiap kata yang keluar dari mulutnya haruslah jujur, bertanggung jawab, dan berpihak pada kebenaran. Ini adalah ujian terbesar bagi seorang komunikator publik.

 

Harapan untuk Masa Depan Makassar

 

Kota Makassar membutuhkan lebih dari sekadar orator; ia membutuhkan pemikir yang mampu menyampaikan gagasannya dengan jelas. Dengan terpilihnya Kak Afrizal, kita berharap terjadi efek domino: munculnya gelombang baru pemuda Makassar yang tidak takut berbicara, namun bijak dalam memilih kata; berani menyampaikan kritik, namun santun dalam penyampaian; dan ambisius dalam berkarya, namun rendah hati dalam menerima apresiasi.

 

Kepada Kak Afrizal: Selamat! Gunakan platform ini untuk memperluas cakrawala, bukan mempersempit ego. Jadilah suara yang menenangkan di tengah keributan, penjelas di tengah kebingungan, dan pemersatu di tengah perpecahan.

 

Kami, masyarakat Makassar, menunggu karya nyatamu. Buktikan bahwa gelar ini layak disandangkan. Buat kami bangga, bukan karena namamu disebut-sebut, tetapi karena kotamu menjadi lebih cerdas, lebih kritis, dan lebih manusiawi berkat suaramu.

 

Sukses selalu, Kak Afrizal. Panggung sudah siap, mikrofon sudah di tangan. Sekarang, giliranmu mengguncang dunia dengan kata-kata yang mengubah keadaan.