JURNALPOLRI.MY.ID, Jeneponto – Sebelum Wakil Bupati Jeneponto membuka resmi kegiatan Manasik Haji tingkat kabupaten, Rabu (16/4/2025), suasana di Ruang Pola Kantor Bupati Jeneponto sudah lebih dulu diisi dengan materi penting dan krusial: kesehatan jemaah haji.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto, Hj. Syusanti A. Mansyur, SKM., M.Kes., tampil di hadapan ratusan jemaah dengan paparan yang gamblang dan langsung menyasar inti persoalan: kesiapan kesehatan jemaah sebagai syarat wajib ibadah haji.
“Istithaah kesehatan bukan sekadar formalitas. Ini adalah bentuk perlindungan agar jemaah bisa menunaikan ibadah dengan aman dan tanpa hambatan,” ujar Syusanti di awal pemaparannya.
Ia menjelaskan, dasar hukum pelaksanaan istithaah kesehatan tertuang dalam UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah serta Permenkes Nomor 15 Tahun 2016.
Artinya, setiap jemaah wajib menjalani pemeriksaan menyeluruh dan harus memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan pemerintah.
Tak hanya menjelaskan regulasi, Kadis Kesehatan juga membedah strategi lapangan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan sejak masa tunggu, dilanjutkan pembinaan rutin, hingga pelatihan fisik dan mental menjelang keberangkatan.
Semuanya dirancang agar jemaah benar-benar siap, baik secara jasmani maupun rohani.
“Kondisi seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung masih jadi momok yang sering dialami jemaah kita. Maka, pengawasan dan pengendalian penyakit ini harus jadi prioritas bersama,” tambahnya.
Syusanti juga menyinggung soal pentingnya peran keluarga dan pembimbing ibadah dalam mendampingi jemaah yang masuk kategori risiko tinggi.
Menurutnya, keberhasilan ibadah haji bukan hanya ditentukan oleh niat dan kesiapan spiritual, tapi juga dukungan dari lingkungan sekitar.
“Menjaga kesehatan itu bagian dari ibadah. Kita ingin semua jemaah asal Jeneponto bisa berangkat dan pulang dengan sehat, serta menjadi haji yang mabrur,” tutupnya dengan penuh harap.
Dengan materi yang padat dan langsung menyasar hal esensial, sesi ini jadi momen pembuka yang menggugah kesadaran para jemaah soal pentingnya menjaga diri sejak dini—karena ibadah yang khusyuk hanya bisa dilakukan dengan tubuh yang kuat. (*)















