JURNALPOLRI.MY.ID, Sidrap – Di bawah mentari pagi yang hangat, saluran irigasi di Kelurahan Sidenreng, Kecamatan Watang Sidenreng, menjadi saksi bisu kesibukan warga dan TNI yang bahu-membahu menyibak lumpur dan rumput liar.
Rabu (25/12/2024) itu, bukan sekadar kerja bakti biasa—di sinilah aliran harapan mulai dirangkai, menjelang musim tanam yang dinanti.
Serka Usman, anggota Koramil 1420-03/Maritengngae, berdiri di tengah kerumunan, suaranya lantang namun akrab, menyatukan ritme kerja warga. Baginya, irigasi yang bersih adalah denyut nadi sawah, dan sawah yang subur adalah kehidupan.
“Puluhan hektar sawah di Sidenreng sudah mulai diolah. Saluran ini, kalau tidak dibersihkan, ibarat urat tersumbat. Air tak mengalir, padi pun sulit tumbuh,” ujar Serka Usman, sembari menggenggam cangkulnya.
Tak hanya TNI, warga dan petani setempat ikut larut dalam kesibukan. Mereka tak sekadar membersihkan, tetapi juga menghidupkan semangat gotong royong yang mulai langka.
Saluran irigasi yang membelah pemukiman kini terlihat lebih lapang, siap mengantar air menuju petak-petak sawah.
“Ini bukan cuma soal sawah, ini juga soal kampung. Kalau irigasi macet karena sampah, kita juga yang rugi. Makanya, jangan buang sampah sembarangan,” pesan Serka Usman kepada warga yang berkumpul.
Antusiasme warga adalah bukti, bahwa kerja bakti ini bukan hanya instruksi, melainkan panggilan hati. Anak-anak muda, para orang tua, hingga petani senior turun langsung, mengangkat lumpur dan sampah yang menyumbat jalur air.
Salah seorang warga, menyeka keringatnya sambil tersenyum, “Kalau begini terus, panen bisa lancar. Kami bersyukur, ada TNI yang selalu dekat dan mau turun tangan langsung.”
Pembersihan saluran irigasi ini bukan sekadar rutinitas, tapi warisan yang harus dijaga. Di sela-sela pekerjaan, Serka Usman menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tak hanya jadi agenda musiman.
“Kalau kita terus jaga kebersihan irigasi, hasilnya akan kita tuai bersama. Bukan hanya padi yang tumbuh, tapi juga kebersamaan dan kepedulian.”
Langkah kaki dan semangat yang tertinggal hari itu menjadi jejak, bahwa di Kelurahan Sidenreng, air yang mengalir bukan sekadar membawa kehidupan, tapi juga merawat persatuan. (*)
Sumber: Sukriadi/Pen Kodim 1420







Tinggalkan Balasan