SIDRAP, JURNALPOLRI.MY.ID — Sidrap punya matahari yang sama tiap hari—terik, kadang menyengat, sering dikeluhkan. Tapi Kamis, 30 April 2026, cara melihat matahari itu mulai berubah.
Di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, rombongan dari Solar Karya Energy datang membawa satu gagasan sederhana: panas yang selama ini “terbuang”, bisa diubah jadi listrik.
Bupati Syaharuddin Alrif menerima langsung kunjungan itu, sebelum pembahasan lanjut ke Kantor Bupati dengan suasana yang lebih teknis.
Di ruang pertemuan, bukan lagi soal sambutan, tapi hitung-hitungan. Haris Alimin dari bagian ekonomi dan sumber daya alam mewakili bupati memimpin diskusi, didampingi sejumlah pejabat.
Topiknya satu: apakah panel surya ini masuk akal dipasang di Sidrap?
Direktur Solar Karya Energy, Januar Ludy, tidak bicara terlalu rumit. Ia langsung menunjuk tempat yang paling “haus listrik”—rumah sakit dan puskesmas.
Gedung-gedung ini nyaris tidak pernah mati lampu, tagihannya besar, dan atapnya luas. “Di situ paling terasa manfaatnya,” kira-kira begitu inti penjelasannya.
Logikanya sederhana. Matahari gratis, alatnya yang dibayar sekali, setelah itu listrik bisa ditekan. Buat pemerintah daerah, ini bukan cuma soal teknologi, tapi soal penghematan jangka panjang.
Yang menarik, Sidrap tidak asal ikut tren. Daerah yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan ini mulai melirik peran baru: lumbung energi terbarukan. Pelan-pelan, tapi arahnya ada.
Meski begitu, belum ada keputusan cepat. Pemda masih menunggu proposal resmi untuk dikaji lebih dalam—biayanya berapa, hematnya sejauh mana, dan apakah benar cocok untuk kondisi di lapangan.
Pertemuan itu mungkin belum menghasilkan apa-apa secara konkret.
Tapi ada satu perubahan kecil yang terasa: matahari di Sidrap mulai dipandang bukan cuma bikin keringat, tapi juga punya nilai. Tinggal bagaimana mengubahnya jadi tenaga. (*)







Tinggalkan Balasan