Pada pukul 10,15 wita terjadi perkelahian dua saudara ipar atas nama daeng saleh( 58 ) dengan daeng mantang ( 65 )

Meraka berkelahi di persawahan tanpa ada yang melerai, salah satu diantaranya meregang nyawa setelah sampai dirumah korban

 

Menjelang masuk sholat Jum’at pelaku atas nama daeng Mantang datang memberitahukan keluarganya bahwa Saleh telah meninggal di sawah nya.

 

“Maemako ngallei saleh matemintu ri galunna( pergimaki ambil saleh di sawahnya, dia sudh meninggal disana)ungkap tersangka pembunuhan.

Lalu pergi meninggalkan rumah menuju kantor polisi sektor tompobulu untuk mendapatkan perlindungan.

 

Tak berselang lama beberapa orang keluarga bergegas mencari daeng saleh di sawahnya, lalu di bawa kerumah untuk mendapatkan pertolongan, akan tetapi takdir berkata lain daeng saleh menghembuskan nafas yang terakhir setelah sampai di rumhnya.

 

” Waktunna kugappa ri galunga tallasak kinjai( waktu saya dapt di sawah masih hidup, dan kami bersama dengan yang lain bergegas bawa pulang menggunakan sarung, tapi sampai di rumah dia sudah meninggal.ungkap salah satu keluarganya.

 

Tak ada asap tanpa api, pasti kejadian ini ada penyebabnya hingga mengakibatkan korban jiwa.

Di temui di ruang tahanan polsek tompobulu daeng mantang(65) mengatakan kepada awak media bahwa

“Saya sangat jengkel pak, masa setiap ada yang sumbat mata airnya saya yang dia tuduh, sudah beberapa kali saya sampaikan bahwa bukan saya, tapi dia tdk mau dengar, hingga saya emosi lalu tebas dia beberapa kali di bagian muka dan perut..

Setelah saya anggap dia sudah meninggal saya pulang kerumah memberitahukan keluarga kalw saya tebas Saleh di sawah. Ungkap pelaku pembunuhan( dg.mantang)

 

Bersama TNI/polri Tim medis dari PKM tompobulu yang Dr fajrin Ashari bersama dua rekannya Rahmawati. S.kep

Ira yusrawati .AMD kep.

Melakukan otopsi / visum terhadap korban, guna menguatkan bahwa benar adanya penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.