Example floating
Example floating
banner 970x200
Berita

Jeritan, Doa, dan Air Mata di Tengah Liburan

94
×

Jeritan, Doa, dan Air Mata di Tengah Liburan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JURNALPOLRI.MY.ID, Pinrang – Sabtu siang (5/4/2025), langit di atas Pantai Ammani, Kecamatan Mattirosompe, Kabupaten Pinrang tampak cerah, nyaris sempurna.

Debur ombak seolah mengundang siapa pun untuk bermain air. Pantai yang biasanya menjadi pelipur penat, justru berubah menjadi saksi bisu sebuah tragedi yang merenggut nyawa.

banner 300x600

Sekitar pukul 14.00 WITA, enam warga asal Sengkang yang tengah menikmati liburan mendadak terseret arus kuat. Tiga orang di antaranya tak pernah kembali ke daratan.

Suasana yang semula penuh canda tawa berubah menjadi jeritan, tangis, dan kepanikan.

“Awalnya mereka berenang tak jauh dari bibir pantai, saling berpegangan tangan. Tapi tiba-tiba gelombang datang dari arah samping, besar sekali. Mereka langsung terpecah dan hilang dari pandangan,” ungkap Ahmad, 41 tahun, seorang pedagang kelapa muda yang kebetulan berjualan tidak jauh dari lokasi kejadian.

Ahmad yang melihat langsung detik-detik kecelakaan itu sempat berteriak meminta bantuan. Namun, arus laut terlalu kuat, dan dalam hitungan detik, beberapa tubuh sudah tidak terlihat.

Seorang pengunjung lain, Dewi, 28 tahun, masih terguncang saat menceritakan ulang kejadian itu.

“Kami sempat lari ke bibir pantai, ada yang teriak ‘tolong-tolong!’ Tapi begitu kami mendekat, tinggal terlihat kepala mereka muncul tenggelam. Kami semua panik,” katanya sambil mengusap matanya yang sembab.

Tim SAR gabungan dari Basarnas, Polairud, BPBD, dan relawan lokal segera bergerak setelah laporan masuk. Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengonfirmasi bahwa kejadian ini termasuk dalam kategori kondisi membahayakan jiwa.

“Arus bawah di sekitar Pantai Ammani hari itu sangat kuat. Para korban tidak sempat menyelamatkan diri. Kami bergerak cepat bersama tim, dan dalam waktu beberapa jam berhasil menemukan seluruh korban,” jelas Andi Sultan.

Korban meninggal dunia adalah Andi Rahma (18), Wangsa (35), dan Ari (25)—ketiganya berasal dari Sengkang.

Sementara tiga lainnya berhasil diselamatkan, meski satu di antaranya, Lina (31), masih dalam kondisi koma dan kini dirawat intensif di RSUD Lasinrang. Dua lainnya, Agustriadi (25) dan Ciko (22), mengalami syok berat namun dinyatakan stabil.

Tragedi ini menyisakan duka mendalam. Pihak keluarga yang datang dari Sengkang tak kuasa menahan tangis saat menyambut jenazah.

Tangisan ibu Andi Rahma terdengar lirih di tengah kerumunan warga dan relawan.

“Anakku cuma mau liburan sebentar. Kenapa harus seperti ini pulangnya?” bisiknya, mengguncang hati siapa pun yang mendengar.

Warga setempat berharap kejadian ini jadi pelajaran bagi semua.

“Pantai ini memang indah, tapi tidak semua area aman untuk berenang. Harus ada tanda larangan dan penjaga pantai,” ujar Kepala Dusun setempat, Pak Ramli.

Basarnas kembali mengingatkan masyarakat untuk selalu memperhatikan kondisi cuaca dan memperhatikan rambu-rambu keselamatan di sekitar pantai.

“Liburan harusnya jadi momen bahagia. Tapi tanpa kewaspadaan, semuanya bisa berubah dalam sekejap,” tutup Andi Sultan.

Hari itu, Pantai Ammani kehilangan cahayanya. Yang tertinggal hanyalah bunga-bunga dan doa yang diletakkan di pasir, sebagai pengingat bahwa alam bisa berubah murka tanpa aba-aba. (*)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *