JURNALPOLRI.MY.ID, Jeneponto – Senin pagi, 7 April 2025, Desa Kayu Loe Timur, Kecamatan Turatea, Jeneponto, tampak lebih semarak dari biasanya.

Langit cerah membentang, seolah turut memberkati helatan akbar Panen Raya serentak 14 provinsi yang dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui sub meeting virtual.

Di halaman kantor desa, para petani mengenakan pakaian terbaik mereka. Ada yang membawa hasil panen, ada pula yang datang bersama keluarga.

Di tengah-tengah mereka berdiri Bupati Jeneponto, H. Paris Yaris, SE., MM., didampingi Kepala Dinas Pertanian.

Wajah mereka mencerminkan kebanggaan atas keberhasilan panen yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Kayu Loe Timur.

“Desa ini adalah kebanggaan kita semua. Lumbung padinya harus menjadi prioritas pembangunan. Ini bukan hanya soal panen, tapi tentang masa depan anak-anak kita yang tumbuh dari jerih payah di sawah,” ujar Paris Yaris dalam sambutannya.

Sebagai kabupaten agraris yang dikenal dengan julukan Butta Turatea, Paris menegaskan bahwa peningkatan kualitas pertanian, khususnya padi, akan menjadi agenda utama Pemkab Jeneponto.

Ia bahkan menyebut Desa Kayu Loe Timur sebagai simbol keberhasilan pertanian Jeneponto yang harus terus dikawal dan dikembangkan.

Presiden Prabowo Subianto, dalam sambutannya yang disaksikan langsung oleh para hadirin melalui layar besar, juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap petani.

Ia mendorong agar harga gabah bisa dinaikkan secara adil, dan harga kebutuhan pokok bisa ditekan demi kesejahteraan rakyat.

“Petani itu tiang negeri. Kita makan karena mereka. Maka mereka pun harus hidup layak. Harga gabah jangan ditekan, harga pangan harus bisa turun. Ini tanggung jawab kita bersama,” kata Presiden dalam sambutan virtualnya.

Di tengah acara, suasana menjadi haru ketika beberapa petani diminta untuk berbagi cerita.

Di antaranya adalah Pak Daeng Madi, petani senior berusia 61 tahun, yang telah menggarap sawah sejak remaja.

“Waktu saya muda, belum ada panen raya seperti ini. Sekarang kami merasa dihargai. Tapi harapan kami, bukan cuma acara yang ramai, tapi harga gabah juga harus naik. Jangan sampai kami panen, tapi tetap rugi,” ujarnya sembari mengelus topi jerami yang sudah lusuh.

Sementara itu, Nursiah, ibu muda yang ikut mengurus sawah keluarganya, berharap ada perhatian lebih terhadap distribusi pupuk dan alat pertanian.

“Kalau alatnya memadai dan pupuk tidak langka, panennya bisa lebih bagus. Kami ingin petani bukan cuma jadi penonton perubahan, tapi pelaku utama,” tegasnya.

Acara panen raya ini bukan hanya seremoni. Ia adalah pertemuan harapan—antara pemimpin dan rakyat, antara tanah yang subur dan tekad untuk sejahtera.

Saat bendera panen dikibarkan dan suara tepuk tangan membahana, satu hal menjadi jelas: Butta Turatea tidak pernah kehilangan semangatnya.

Karena di balik setiap bulir padi, tersimpan cerita perjuangan dan impian yang terus tumbuh. (*)