JURNALPOLRI.MY.ID, Sidrap — Senin pagi (7/4/2025), suasana Pasar Bila, Desa Bila, Kecamatan Dua Pitue, tampak lebih semarak dari biasanya.
Di antara hiruk-pikuk para pedagang dan pembeli, tampak sosok berseragam loreng yang akrab menyapa para warga dengan senyum hangat.
Ia adalah Serma Abdul Haris, Babinsa Desa Bila dari Koramil 1420-05/Dua Pitue, yang hari itu turun langsung ke lapangan untuk memantau harga dan ketersediaan bahan pokok.
Bukan sekadar meninjau, kehadiran Serma Haris di tengah pasar memberi warna tersendiri. Dengan telaten, ia mencatat satu per satu harga bahan pokok—mulai dari beras, daging, hingga sayur dan minyak goreng.
Langkah ini merupakan bagian dari tugas kewilayahan Babinsa yang tak hanya menjaga keamanan, tetapi juga mengawal ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat kecil.
“Kami turun langsung agar bisa melihat kondisi real di lapangan. Tujuannya agar distribusi bahan pokok tetap aman dan harga tetap stabil,” ujar Serma Haris sambil menelusuri deretan kios dengan clipboard di tangan.
Data yang dihimpun menunjukkan harga kebutuhan pokok masih dalam kategori wajar.
Hasil pemantauan harga bahan pokok di pasar menunjukkan:
– Beras: Biasa Rp12.000/kg, Kepala Rp14.000/kg, Premium Rp17.000/kg, Ketan Hitam Rp23.000/liter, Ketan Putih Rp17.000/liter.
– Unggas: Ayam Ras/Broiler Rp40.000/ekor, Ayam Kampung Rp55.000/ekor, Ayam Potong Rp50.000/ekor.
– Ikan: Bandeng Rp35.000/kg, Layang Rp4.000/ekor, Cakalang Rp20.000/ekor, Teri Kering Rp15.000/liter.
– Telur: Ayam Ras Rp50.000/rak, Ayam Kampung Rp80.000/ekor, Bebek Rp80.000/ekor, Bebek Asin Rp90.000/rak.
– Daging: Sapi Rp130.000/kg.
– Bumbu: Bawang Merah Rp20.000/kg, Bawang Putih Rp35.000/kg, Tomat Rp20.000/kg, Cabe Rawit Rp30.000/kg, Cabe Merah Besar Rp20.000/kg.
– Bahan Tambahan: Gula Pasir Rp17.500/liter, Gula Merah Rp30.000/kg, Tempe Rp5.000/biji, Sayur Rp5.000/ikat, Terigu Rp12.000/kg.
– Minyak Goreng: Bimoli Rp21.000/liter, Kita Rp15.000/liter, Sania Rp17.000/liter, Sedap Rp17.000/liter.
Namun di balik angka-angka itu, ada rasa tenang dan kepercayaan yang tumbuh dari masyarakat, khususnya para pedagang yang merasa dihargai dan dilibatkan.
“Kita merasa lebih aman kalau Babinsa sering datang begini. Paling tidak, kita tahu pemerintah memang peduli sama kondisi pasar,” ungkap Ibu Erna, pedagang sayur yang sudah beberapa tahun berjualan di Pasar Bila.
Hal senada diutarakan Pak Lani, penjual beras yang juga menjadi langganan para ibu rumah tangga.
“Kalau ada aparat seperti Babinsa yang pantau langsung, kita jadi tertib juga. Harga dijaga, dan pembeli jadi percaya sama kita,” ujarnya sambil menimbang beras kepala.
Tak hanya pedagang, para pembeli pun mengaku merasa lebih nyaman berbelanja saat melihat personel TNI turun langsung.
“Bagus sekali ini, jarang-jarang aparat seperti Babinsa turun langsung. Rasanya seperti ada yang jaga kami dari belakang,” ucap Ibu Hasna, seorang ibu rumah tangga yang baru saja membeli ayam potong.
Dari sisi keamanan, pemantauan berlangsung aman, tertib, dan humanis. Serma Haris tak sekadar mencatat harga, ia juga menyerap aspirasi—dari keluhan soal stok bahan tertentu, hingga harapan agar operasi pasar digelar lebih sering saat harga mulai naik.
Ia pun menegaskan bahwa pemantauan ini akan terus digelar secara rutin dan berkala sebagai wujud nyata komitmen Kodim 1420/Sidrap dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas sosial ekonomi masyarakat.
“Tugas kami bukan hanya menjaga wilayah dari gangguan fisik, tapi juga memastikan warga tak kesulitan menghadapi tantangan ekonomi,” ujar Haris penuh semangat.
Di tengah tantangan global yang memengaruhi harga-harga pangan, peran aktif Babinsa seperti Serma Abdul Haris menjadi oase penyejuk bagi masyarakat desa.
Bukan hanya soal harga sembako, tapi tentang rasa aman dan kepercayaan bahwa negara benar-benar hadir di tengah kehidupan rakyat kecil.
Dan hari itu, Pasar Bila tak hanya jadi tempat transaksi, tapi juga saksi bisu pengabdian senyap yang bermakna—saat seorang Babinsa menepikan ego demi memastikan perut rakyat tak pernah kosong. (*)







Tinggalkan Balasan