JURNALPOLRI.MY.ID, Sidrap – Senin pagi (7/4/2025), mentari baru saja mengintip di balik hamparan hijau persawahan Toddang Bojo, Kelurahan Bangkai, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap.
Tapi semangat para petani dan jajaran Forkopimda Sidrap sudah menggelegak sejak subuh. Hari itu bukan panen biasa—hari itu adalah momentum nasional: Panen Raya Padi Serentak di 14 Provinsi.
Di tengah deretan batang padi yang menguning siap dipotong, sosok berseragam hijau loreng tampak menonjol.
Letkol Inf Awaloeddin, S.I.P., Komandan Kodim 1420/Sidrap, berdiri tegak bersama para pemimpin daerah lainnya.
Ia tak sekadar hadir, tapi ikut menyatu dengan para petani yang selama ini menjadi ujung tombak ketahanan pangan negeri.
Kegiatan panen raya ini diselenggarakan secara virtual serentak, terhubung langsung dengan Presiden Republik Indonesia, Jenderal (Purn) H. Prabowo Subianto.
Dari layar besar yang terpasang di area panen, Presiden memberi semangat dan arah kebijakan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional—sebuah isu strategis di tengah ancaman global terhadap pasokan pangan dunia.
Hamparan sawah yang dipanen hari itu tak main-main: sekitar 540 hektare lahan ditanami varietas unggulan seperti Inpari 37, Mekongga, MR 219, hingga Ceheran.
Sistem tanam tabela yang diterapkan selama 110 hari membuahkan hasil manis, dengan produktivitas mencapai 7,9 ton per hektare.
Angka ini menjadi harapan baru di tengah tantangan yang dihadapi para petani, mulai dari cuaca ekstrem hingga fluktuasi harga jual.
Letjen (Purn) Andi Geerham Lantara, Dewan Pengawas Perum Bulog RI, turut hadir, bersama Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif, Wakil Bupati Nurkana’ah, Ketua DPRD, Kapolres, serta kepala OPD.
Mereka bahu-membahu menunjukkan dukungan moral dan politik kepada para petani.
Dalam sambutannya, Bupati Sidrap menggarisbawahi pentingnya menjaga stabilitas harga gabah, yang saat ini berada di kisaran Rp6.500 – Rp6.700 per kilogram.
Menurutnya, harga yang stabil bukan hanya menyenangkan petani, tapi juga menahan laju inflasi pangan yang kerap jadi momok ekonomi.
“Pemkab Sidrap sedang mendorong pemerataan listrik desa sampai ke area persawahan. Tujuannya untuk mendukung kerja para petani, termasuk mengatasi hama seperti kupu-kupu putih yang sering jadi musuh utama tanaman padi,” ujar Bupati.
Kegiatan hari itu tidak sekadar simbolik. Letkol Awaloeddin bersama Forkopimda turun langsung ke sawah, memegang kendali combine harvester, menyaksikan sendiri proses penimbangan hasil panen, dan melihat traktor mengolah lahan untuk musim tanam berikutnya.
Bukan hanya seremoni, tapi bukti bahwa para pemimpin benar-benar menjejak di tanah yang sama dengan rakyatnya.
“Ini bukan cuma soal panen. Ini soal keberlangsungan hidup. Ketahanan pangan adalah pertahanan negara yang sesungguhnya,” ujar Letkol Awaloeddin ketika ditemui usai panen.
Kegiatan ditutup sekitar pukul 13.50 WITA. Suasana tetap aman, tertib, namun penuh semangat gotong royong.
Para petani tampak puas, bukan hanya karena hasil panen yang melimpah, tapi karena merasa dilihat, didengar, dan dihargai.
Di tengah dunia yang makin tak pasti, pemandangan seperti ini menguatkan harapan: bahwa negeri ini masih punya pijakan kuat—di ladang-ladang, di tangan-tangan petani, dan di pundak para penjaga tanah air. (*)







Tinggalkan Balasan