JURNALPOLRI.MY.ID, Sidrap – Pagi itu, langit Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, memayungi hamparan sawah yang mulai menguning.
Udara segar membawa aroma khas musim panen, dan suara deru Combine Harvester terdengar dari kejauhan.
Namun hari itu bukan panen biasa. Di atas lahan pertanian Massamaturue, Desa Toddang Bojo, Senin (7/4/2025), suasana terasa berbeda—penuh gairah, penuh harapan.
Di tengah barisan petani dan penyuluh yang menyingsingkan lengan baju, tampak sosok berseragam cokelat tua—Kapolres Sidrap, AKBP Dr. Fantry Taherong, S.H., S.I.K., M.H., ikut menapaki pematang sawah.
Ia tak hanya datang sebagai tamu kehormatan. Ia hadir sebagai bagian dari perjuangan besar menjaga ketahanan pangan.
Kegiatan Panen Raya Padi tahun ini istimewa. Dilaksanakan serentak di 14 provinsi, acara ini terkoneksi langsung dengan Presiden RI, H. Prabowo Subianto, yang memimpin panen utama dari Majalengka, Jawa Barat.
Melalui layar Zoom Meeting yang terpasang di tenda acara, seluruh hadirin di Sidrap menyimak pesan nasional sang kepala negara.
Di antara suara riuh petani dan sapaan Forkopimda Sidrap, Kapolres Fantry terlihat khusyuk mendengarkan arahan Presiden.
Wajahnya serius, namun penuh semangat. Sesaat setelah pidato berakhir, ia pun mengajak beberapa petani mendekat ke timbangan gabah.
Dengan tangan sendiri, Fantry ikut menimbang hasil panen hari itu—seolah ingin memastikan setiap butir jerih payah petani diakui dan dihargai.
Angka yang terpampang di layar timbangan memukau banyak pihak. Dari sebelumnya hanya 4 ton per hektar, panen kali ini melonjak menjadi 7,8 ton per hektar.
Sebuah capaian luar biasa, hasil kolaborasi yang apik antara penyuluh, pemerintah daerah, petani, dan tentu saja pengamanan serta dukungan dari aparat Polri.
“Panen raya ini bukan hanya tentang padi yang dituai. Ini tentang kepercayaan yang dipanen, tentang kerja bersama yang menghasilkan,” ujar Kapolres Fantry saat ditemui usai menimbang gabah.
Fantry menegaskan, kehadiran Polri dalam kegiatan seperti ini adalah bentuk komitmen mendalam terhadap stabilitas nasional.
Pangan yang cukup, katanya, adalah pondasi utama keamanan sosial. Tanpa ketersediaan pangan, konflik mudah muncul, keresahan cepat menyebar.
“Panen ini adalah bagian dari menjaga Indonesia tetap damai. Kami, aparat kepolisian, hadir untuk memastikan petani bisa bekerja dengan tenang dan hasilnya tidak terganggu oleh apapun,” lanjutnya.
Kabupaten Sidenreng Rappang memang bukan pemain baru dalam sektor pertanian. Dengan sistem sawah tadah hujan, petani di daerah ini dikenal tangguh menghadapi musim.
Dan tahun ini, mereka membuktikan diri dengan hasil panen yang meningkat tajam.
Kehadiran tokoh-tokoh seperti Ketua DPRD Sidrap, Dewan Pengawas Bulog, hingga BPS dan Dinas TPHPKP, makin memperkuat sinergi antar instansi.
Di sela-sela kegiatan, suasana penuh kekeluargaan terasa kental. Petani bercengkerama dengan penyuluh, pejabat berdiskusi ringan dengan aparat.
Semua membaur dalam satu semangat: membangun Sidrap sebagai tulang punggung ketahanan pangan Sulsel.
Arahan Presiden tentang swasembada pangan menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa ketahanan nasional bukan hanya tanggung jawab kementerian atau elite politik.
Ia berakar dari sawah-sawah seperti di Massamaturue, dari timbangan gabah yang dijaga bersama, dan dari aparat yang siap turun sawah, seperti yang dilakukan Kapolres Fantry.
Hari itu, bukan hanya padi yang dipanen. Harapan juga. Dan Sidrap sekali lagi menunjukkan, bahwa masa depan negeri ini bisa ditanam dan dituai bersama—dari tanah yang subur, dan dari hati yang tulus menjaga. (*)







Tinggalkan Balasan