TUMBANG TITI – Kepercayaan konsumen di Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, terhadap layanan ekspedisi J&T Express (JNT) kini berada di titik nadir. Bukan sekadar ketidakpuasan sesaat, melainkan akumulasi kekecewaan akibat pelayanan yang berulang kali gagal memenuhi standar dasar logistik. Mulai dari paket yang hilang tanpa kejelasan, pengiriman yang molor tanpa komunikasi proaktif, hingga respons pengaduan yang lambat dan tidak solutif, menjadi bukti nyata bahwa manajemen cabang JNT Tumbang Titi sedang mengalami krisis integritas layanan.

Keluhan ini bukan lagi isu sepele yang bisa diselesaikan dengan permintaan maaf formalitas. Ketika konsumen membayar ongkos kirim, mereka membeli janji: barang sampai aman, tepat waktu, dan terlindungi. Namun realitas di lapangan justru menyajikan kebalikannya. Paket berharga—mulai dari kebutuhan pokok, dokumen penting, hingga pesanan daring—sering kali diperlakukan sembarangan. Hilangnya barang seolah menjadi “risiko normal” yang harus ditanggung konsumen, sementara pihak penyedia jasa lepas tangan dengan alasan klise yang tidak pernah diverifikasi secara transparan.

Di Mana Akuntabilitas dan Standar Pelayanan?

Pertanyaan tajam harus dijawab langsung oleh manajemen JNT Cabang Tumbang Titi dan kantor pusat:

Mengapa hilangnya paket seolah menjadi hal yang lumrah? Apakah sistem pelacakan (tracking) hanya berfungsi sebagai pajangan digital? Atau memang ada kebocoran aset internal yang dibiarkan karena lemahnya pengawasan dan integritas SDM?

Ke mana perginya empati terhadap konsumen? Respons yang minim, telepon yang sulit dihubungi, dan penyelesaian masalah yang bertele-tele adalah bentuk penghinaan terhadap uang, waktu, dan kepercayaan pelanggan. Konsumen bukan objek pasif yang bisa diberi alasan tanpa bukti.

Apakah kompetensi petugas di cabang Tumbang Titi sudah memadai? Seringkali masalah teknis hanyalah gejala; akar penyakitnya adalah kurangnya pelatihan, rasa memiliki, dan etika kerja. Petugas yang tidak peduli sama saja dengan sabotase reputasi perusahaan sendiri.

Kami menolak narasi bahwa “logistik di daerah terpencil memang sulit”. Kesulitan geografis bukanlah alibi untuk ketidakprofesionalan. Jika JNT berani membuka cabang di Tumbang Titi, maka mereka wajib menyediakan layanan yang setara dengan standar nasional, atau setidaknya bersikap jujur mengenai keterbatasan sejak awal. Menjual harapan palsu lalu menghilang saat ada masalah adalah praktik bisnis yang tidak etis dan melanggar hak konsumen.

Tuntutan Nyata: Ganti Rugi Adil, Evaluasi Total, dan Transparansi!

Masyarakat Tumbang Titi mendesak tindakan tegas dan terukur, bukan sekadar pencitraan:

Manajemen JNT Tumbang Titi: Segera audit seluruh kasus kehilangan dan keterlambatan paket dalam periode terakhir. Berikan kompensasi ganti rugi yang adil, cepat, dan transparan kepada korban, bukan voucher diskon yang tidak menyelesaikan masalah substantif.

Kantor Pusat JNT Indonesia: Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja cabang Tumbang Titi. Jika diperlukan, lakukan rotasi personel, penambahan supervisi langsung, atau bahkan penutupan sementara untuk perbaikan sistem. Jangan biarkan satu cabang merusak reputasi brand secara nasional.

YLKI & Dinas Perdagangan Ketapang: Fasilitasi mediasi independen antara konsumen dan JNT. Lindungi hak-hak konsumen yang selama ini terabaikan. Jangan biarkan dominasi layanan logistik di daerah menjadi sumber kesewenang-wenangan.

Layanan ekspedisi adalah urat nadi ekonomi digital di Tumbang Titi. Jika urat nadi ini tersumbat oleh kelalaian dan ketidakpedulian, maka jangan salahkan warga jika mereka beralih ke kompetitor atau memboikot jasa Anda. Kepuasan konsumen bukan slogan marketing; itu adalah kontrak sosial yang harus ditepati dengan keringat dan integritas. Jangan tunggu sampai viral baru bergerak. Sekaranglah waktunya membuktikan bahwa JNT masih layak dipercaya di Tumbang Titi. (*)