SIDRAP, Jurnalpolri.my.id — Saat sebagian warga memulai hari dengan aktivitas masing-masing, Polres Sidrap memilih mengawali pagi melalui ibadah dan silaturahmi. Masjid Al-Ikhlas Polres Sidrap menjadi tempat pelaksanaan Subuh Keliling, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar salat berjamaah. Di balik suasana religius, ada upaya membangun kedekatan antara polisi dan masyarakat sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Subuh Keliling dilaksanakan secara serentak di jajaran Polres Sidrap. Para pejabat utama, personel Polres, hingga jajaran polsek turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Usai beribadah, komunikasi menjadi bagian penting dari pertemuan. Personel kepolisian berdialog dengan jamaah untuk mendengar aspirasi, masukan, hingga keluhan mengenai keamanan di lingkungan masing-masing.

Kapolres Sidrap, AKBP Indra Waspada Yuda, menegaskan bahwa kedekatan dengan masyarakat perlu dibangun melalui komunikasi langsung. Dengan begitu, polisi dapat mengetahui persoalan yang dihadapi warga dan menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan di lapangan.

“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya menjalin kedekatan, tetapi juga membuka ruang dialog langsung bagi warga untuk menyampaikan masukan, saran, atau keluhan terkait situasi kamtibmas,” ujar Indra.

Pesan yang disampaikan Kapolres tidak berhenti pada persoalan keamanan. Ia juga mengajak jamaah dan personel kepolisian untuk terus menghidupkan kegiatan ibadah lainnya sebagai bagian dari pembinaan rohani.

Menurutnya, pembinaan rohani yang baik diharapkan membawa dampak positif terhadap pelaksanaan tugas, sikap, dan pelayanan personel kepada masyarakat.

“Kegiatan ini jangan hanya menjadi formalitas semata, melainkan harus terus berlanjut di seluruh masjid yang ada di wilayah Kabupaten Sidrap. Dengan begitu, kehadiran polisi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” lanjutnya.

Harapan itu menempatkan Subuh Keliling sebagai ruang perjumpaan yang lebih dekat antara aparat dan warga. Sebab, persoalan kamtibmas tidak selalu diketahui hanya melalui laporan resmi, tetapi juga dapat muncul dari percakapan sederhana di tengah masyarakat.

Dari masjid, pesan keamanan disampaikan dengan pendekatan yang lebih terbuka. Polisi berupaya hadir bukan hanya ketika persoalan terjadi, tetapi juga membangun komunikasi agar potensi gangguan keamanan dapat diketahui dan ditangani lebih dini.

Pada akhirnya, keberhasilan kegiatan semacam ini tidak hanya diukur dari pelaksanaannya, tetapi juga dari kesinambungan dialog dan tindak lanjut atas aspirasi warga. Ketika komunikasi terjaga, kepercayaan masyarakat dan upaya menjaga Sidrap tetap aman diharapkan tumbuh bersama. (*)