Sidrap, Jurnalpolri.my.id — Deru alat berat tak berhenti di saluran irigasi Lasireso, Kelurahan Majjelling Watang, Kecamatan Maritengngae. Di titik inilah harapan ribuan petani di Kabupaten Sidenreng Rappang sedang dipertaruhkan.
Sejak tanggul irigasi teknis tersebut jebol pada akhir Mei lalu, distribusi air ke ribuan hektare lahan pertanian mengalami gangguan. Dampaknya tidak hanya dirasakan petani di Kecamatan Maritengngae, tetapi juga menjalar hingga wilayah Panca Lautang, Tellu Limpoe, dan Watang Pulu.
Jebolnya tanggul memaksa dilakukan penutupan sementara saluran irigasi untuk proses perbaikan. Akibatnya, aktivitas pertanian di sejumlah areal persawahan ikut terdampak karena pasokan air tidak lagi mengalir secara normal.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sidrap, Hasbin SP, mengatakan gangguan suplai air saat ini menyentuh sekitar 5.200 hektare areal persawahan yang bergantung pada jaringan irigasi tersebut.
“Pengerjaan saluran yang jebol diperkirakan selesai sekitar 10 hari ke depan. Tim dari PSDA Sidrap bersama vendor Balai Besar Pompengan terus bekerja siang dan malam untuk mempercepat perbaikan. Kami berharap cuaca tetap mendukung,” ujar Hasbin, Kamis (11/6).
Menurutnya, percepatan pekerjaan menjadi prioritas mengingat jaringan irigasi Lasireso merupakan salah satu urat nadi pertanian di Sidrap. Semakin lama aliran air terhenti, semakin besar pula risiko yang dihadapi petani, terutama pada fase pertumbuhan tanaman yang membutuhkan pasokan air stabil.
Tanggul tersebut diketahui jebol pada Sabtu, 30 Mei 2026. Memasuki pekan kedua penanganan, berbagai upaya terus dilakukan agar saluran kembali berfungsi dan kebutuhan air pertanian dapat terpenuhi.
Perhatian terhadap persoalan ini juga datang langsung dari Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif. Orang nomor satu di Sidrap itu dikabarkan telah meninjau lokasi kerusakan dan meminta seluruh pihak terkait mempercepat proses pemulihan jaringan irigasi.
Instruksi tersebut dinilai penting karena sektor pertanian merupakan tulang punggung perekonomian daerah. Keterlambatan pasokan air berpotensi memengaruhi produktivitas lahan dan jadwal tanam petani di wilayah terdampak.
Di sisi lain, perbaikan tidak bisa dilakukan secara sepihak oleh pemerintah daerah. Saluran yang mengalami kerusakan merupakan bagian dari Daerah Irigasi (DI) Saddang yang berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang.
Karena itu, penanganan teknis dilakukan melalui kolaborasi antara BBWS Pompengan Jeneberang dan Pemerintah Kabupaten Sidrap. Dinas PSDA sendiri telah menerjunkan tim darurat sejak awal kejadian untuk melakukan langkah tanggap darurat, termasuk penanganan sementara di lokasi tanggul yang jebol.
Peristiwa serupa bukan kali pertama terjadi pada jaringan irigasi di wilayah tersebut. Kerusakan tanggul kerap dipicu kombinasi faktor alam dan teknis, mulai dari curah hujan tinggi, erosi, hingga tekanan debit air yang meningkat.
Kini, ribuan petani hanya berharap satu hal: aliran air kembali mengalir ke sawah mereka. Sebab di balik proyek perbaikan tanggul yang terus dikebut, ada musim tanam yang tidak bisa menunggu terlalu lama.(*)







Tinggalkan Balasan