JURNALPOLRI.MY.ID, Takalar – Senin pagi, 7 April 2025, langit di atas Mapolres Takalar tampak teduh. Namun suasana hati para personel di lapangan jauh dari biasa.
Ada haru yang menggantung di udara, ada isak tertahan di antara derap langkah dan deretan seragam rapi. Pagi itu bukan apel seperti biasanya—pagi itu adalah akhir dari sebuah babak.
AKBP Gotam Hidayat berdiri tegap di depan jajarannya. Untuk terakhir kalinya, ia memimpin apel pagi sebagai Kapolres Takalar.
Dalam waktu dekat, ia akan mengemban amanah baru di Polda Jawa Barat. Namun sebelum meninggalkan Butta Panrannuangta, ia memilih berpamitan secara langsung—dengan cara yang paling sederhana namun penuh makna.
“Terima kasih atas dukungan, kerja sama, dan kebersamaan selama saya menjabat. Saya mohon doa restu untuk melanjutkan pengabdian saya di tempat yang baru,” ucapnya lirih namun tegas, menahan emosi yang nyaris pecah di ujung kalimat.
Apel itu terasa istimewa karena dirangkaikan dengan Halal Bihalal pasca libur Idul Fitri. Seolah semesta menyatukan dua momen sakral: perpisahan dan saling memaafkan.
Seluruh Pejabat Utama Polres, Kapolsek jajaran, perwira, bintara, hingga ASN berkumpul. Wajah-wajah yang biasa terlihat disiplin kini tampak lebih lembut, penuh penghargaan.
“Secara pribadi dan atas nama keluarga, saya mohon maaf jika ada tutur kata atau tindakan saya yang tidak berkenan. Semoga Ramadan kita menjadi amal ibadah yang diterima oleh Allah SWT. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin,” ujar Gotam dengan suara sedikit bergetar, menyapu seluruh barisan.
Selepas apel, acara berlanjut ke Halal Bihalal. Tak ada sekat pangkat. Tangan-tangan bersalaman, punggung saling ditepuk hangat, dan beberapa pelukan diam-diam mengandung air mata. Ada yang menunduk, ada yang mengusap mata cepat-cepat, takut terlihat rapuh.
“Saya pribadi merasa kehilangan,” ungkap salah satu personel yang cukup dekat dengan Gotam. “Beliau pemimpin yang tegas tapi sangat manusiawi. Beliau tahu cara menyentuh hati anggotanya tanpa harus mengangkat suara.”
Senada dengan itu, seorang Polwan senior, mengaku terkesan dengan gaya kepemimpinan sang Kapolres.
“Beliau selalu hadir di saat kami butuh. Tak pernah gengsi turun ke lapangan, bahkan dalam situasi paling sulit,” kenangnya sambil tersenyum kecil.
Bagi Gotam Hidayat, Takalar mungkin hanyalah salah satu persinggahan dalam karier panjangnya sebagai abdi negara. Tapi bagi jajaran Polres Takalar, kehadirannya telah meninggalkan jejak yang sulit dihapus.
Hari itu, bukan hanya seorang Kapolres yang dilepas, tetapi juga seorang sahabat, pemimpin, dan teladan. Dan seperti setiap perpisahan yang baik, ia tak menyisakan luka—hanya kenangan dan doa.
Selamat jalan, AKBP Gotam Hidayat. Takalar akan selalu mengingatmu dalam catatan pengabdian yang tulus.
(Asw-19)







Tinggalkan Balasan