ACEH TIMUR, Jurnalpolri.my.id – Polemik penebangan pohon peneduh di SMAN 1 Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur, berlanjut dengan pergantian pimpinan sekolah. Henny Mahera Siregar, S.Pd., M.Pd., ditunjuk sebagai Pelaksana Harian (Plh.) Kepala SMAN 1 Simpang Ulim mulai Senin (26/10/2026).
Sebelumnya, jabatan kepala sekolah dipegang Laina Fariyani. Pergantian ini terjadi setelah penebangan sejumlah pohon di lingkungan sekolah menuai keberatan dari guru dan siswa.
Sorotan juga tertuju pada seorang guru yang menyampaikan aspirasi dalam forum mediasi. Guru tersebut menegaskan pentingnya menghargai profesi pendidik dan memberi ruang bagi tenaga pengajar untuk menyampaikan pendapat.
###Pohon Ditebang Usai Sekolah Terdampak Banjir
Polemik bermula ketika alat berat didatangkan untuk menormalisasi saluran air setelah sekolah terdampak banjir akibat hujan lebat. Namun, sejumlah pohon peneduh yang diperkirakan berusia 10 hingga 15 tahun turut ditebang.
Penebangan itu memicu keberatan dari warga sekolah, bahkan berujung pada aksi mogok belajar siswa.
Rahmatsah Putra menjelaskan, alat berat didatangkan untuk memperbaiki saluran air agar genangan tidak kembali mengganggu aktivitas sekolah.
Sementara itu, Laina Fariyani menyebut pekerjaan parit dilakukan untuk mengatasi genangan tahunan. Ia mengatakan sejumlah pohon ditebang karena dinilai berbenturan dengan kabel listrik.
Rahmatsah menegaskan, instruksi awal dinas berfokus pada penataan drainase. Ia juga menyampaikan kekhawatiran bahwa akar pohon dapat mengganggu fondasi dan saluran air.
Pihak terkait merencanakan penanaman kembali menggunakan tanaman produktif, seperti mangga dan rambutan.
###Guru Sampaikan Keberatan dalam Mediasi
Di tengah polemik tersebut, seorang guru menyampaikan keberatan mengenai perlakuan terhadap tenaga pendidik. Ia mengaku sebagai putra daerah sekaligus alumni sekolah dan berharap guru tetap dihargai dalam proses pengambilan keputusan.
Menurutnya, menyampaikan pendapat yang diyakini benar tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bentuk pembangkangan.
Guru tersebut juga menyatakan siap menghadapi konsekuensi atas aspirasi yang disampaikannya, termasuk kemungkinan dipindahkan atau mendapat penugasan di tempat lain.
Pernyataan itu menyoroti pentingnya komunikasi terbuka antara pimpinan sekolah, guru, dan pihak terkait, terutama ketika keputusan menyangkut lingkungan serta kegiatan belajar mengajar.
###Pergantian Pimpinan Diharapkan Pulihkan Kondisi Sekolah
Penunjukan Henny Mahera Siregar sebagai Plh. Kepala SMAN 1 Simpang Ulim diharapkan membantu memulihkan suasana sekolah agar kegiatan belajar mengajar kembali berjalan kondusif.
Namun, belum ada keterangan yang memastikan bahwa pergantian pimpinan tersebut merupakan sanksi atas polemik penebangan pohon atau berkaitan langsung dengan aspirasi guru dalam mediasi.
Pergantian jabatan dan polemik yang mendahuluinya menjadi dua hal yang perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat.
Hingga berita ini disusun, belum tersedia keterangan lengkap mengenai alasan resmi penunjukan Plh. maupun tanggapan dari pihak berwenang terkait hubungan pergantian tersebut dengan polemik yang terjadi.
Klarifikasi dari dinas pendidikan dan pihak sekolah diperlukan untuk memastikan duduk perkara, sekaligus memberi kejelasan kepada guru, siswa, dan masyarakat mengenai langkah selanjutnya. (*/Red.)







Tinggalkan Balasan