JURNALPOLRI.MY.ID, Sidrap – Matahari baru saja naik, namun denyut kehidupan di Pasar Sentral Bilokka sudah menggeliat penuh semangat.
Suara tawar-menawar, aroma sayur mayur segar, dan lalu-lalang pembeli mewarnai pagi Sabtu (6/4/2025) di Kelurahan Bilokka, Kecamatan Panca Lautang, Sidrap.
Namun ada pemandangan berbeda hari itu—dua sosok berseragam loreng tampak menyusuri lorong-lorong pasar, bukan untuk belanja, tapi untuk mengamati dengan saksama.
Mereka adalah Serka Ahmadi dan Koptu Parondongan, Babinsa dari Koramil 1420-01/Panca Lautang.
Pagi itu, Pukuk 09.30 WITA, mereka menjalankan misi sederhana namun berdampak besar: memantau harga dan ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat.
“Kami sengaja turun langsung ke lapangan, karena harga bahan pokok ini sangat berpengaruh pada kondisi sosial masyarakat. Kalau sampai naik tak terkendali, bisa timbul keresahan,” ujar Serka Ahmadi sembari mencatat harga beras dari salah satu pedagang.
Hasil pantauan menunjukkan bahwa kondisi pasar terbilang aman. Harga kebutuhan pokok cenderung stabil dan tidak menunjukkan lonjakan signifikan pasca-Ramadhan.
Misalnya, beras biasa masih di angka Rp 12.000/kg, sementara beras premium dijual Rp 17.000/kg. Di sisi lain, daging sapi tetap di harga Rp 130.000/kg—angka yang menurut para pedagang relatif stabil dalam dua pekan terakhir.
“Alhamdulillah, harga nggak naik-naik amat, pembeli juga tenang,” ungkap Ibu Fatma, pedagang sayur yang tiap pagi menggelar dagangannya sejak subuh.
Ia menyebut kehadiran Babinsa sebagai hal yang menenangkan. “Rasanya kami diawasi dan dibantu, bukan sekadar ditanya-tanya.”
Koptu Parondongan, yang tampak akrab berbincang dengan para pedagang, menyebut bahwa pendekatan humanis seperti inilah yang ingin dibangun TNI di tengah masyarakat.
“Kami bukan sekadar memantau, tapi juga ingin jadi jembatan informasi antara warga dan pemerintah,” ujarnya.
Harga bahan pokok lain yang dipantau mencakup berbagai komoditas penting. Misalnya, minyak goreng merek Bimoli dijual Rp 21.000/liter, sedangkan merek Kita lebih terjangkau di Rp 15.000/liter.
Komoditas seperti telur ayam ras masih berada di kisaran Rp 50.000 per rak, dan ikan bandeng Rp 10.000/ekor.
Sementara itu, harga bumbu dapur seperti bawang merah dan cabe merah besar berada di angka Rp 30.000/kg. Harga-harga ini, meski sedikit fluktuatif, masih dalam batas wajar dan dapat dijangkau masyarakat.
Menurut Babinsa, hasil dari kegiatan ini akan dilaporkan ke satuan atas dan diteruskan kepada instansi terkait di pemerintah daerah.
Tujuannya agar pengambil kebijakan memiliki data faktual dari lapangan sebagai dasar pengendalian harga dan distribusi barang.
Kegiatan ini pun mendapat respons positif dari masyarakat. Tak sedikit warga yang menghampiri Babinsa sekadar berbagi cerita atau menyampaikan keluhan kecil, mulai dari harga cabai hingga kondisi jalan menuju pasar.
“Kami merasa dijaga, dan itu penting. Apalagi di masa-masa habis Lebaran begini, biasanya harga suka naik diam-diam,” ujar Pak Armin, seorang pembeli yang datang dari desa tetangga.
Dengan kehadiran dua Babinsa yang tak hanya mencatat tapi juga mendengarkan, kegiatan di Pasar Bilokka hari itu terasa lebih hidup dan akrab.
Bukan hanya transaksi yang terjadi, tapi juga komunikasi dua arah yang mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat.
Kegiatan pemantauan ini berlangsung aman, lancar, dan penuh kedekatan emosional.
Di balik angka-angka harga yang dicatat, ada ketulusan yang dibawa oleh dua seragam loreng itu—bahwa menjaga stabilitas bukan semata soal ekonomi, tapi soal merawat rasa aman dan kepercayaan warga terhadap negara.
Dan di bilik-bilik sederhana pasar tradisional seperti Bilokka, rasa percaya itu tumbuh dari hal-hal kecil—sapa hangat, senyum ramah, dan langkah ringan dua Babinsa yang tak kenal lelah mengawal denyut kehidupan masyarakat. (*)







Tinggalkan Balasan