PALOPO, JURNALPOLRI.MY.ID — Kota ini kembali berdiri di persimpangan yang mengkhawatirkan. Di tengah rentetan bentrokan dan aksi anarkis yang terus berulang, suara paling keras akhirnya datang dari aparat kepolisian.
Kapolres AKBP Dedi Surya Dharma mengeluarkan instruksi yang langsung mengguncang ruang publik: “tembak di tempat” bagi para perusuh.
Kalimat itu bukan sekadar ancaman. Ia seperti tanda bahwa kesabaran negara mulai mencapai batas akhirnya.
Di balik ketegasan tersebut, tersimpan kenyataan pahit. Jalur damai yang selama ini ditempuh perlahan dianggap kehilangan daya. Mediasi dilakukan berkali-kali. Pertemuan digelar. Kesepakatan damai ditandatangani.
Bahkan, pernah ada momen makan bersama usai penyembelihan sapi sebagai simbol perdamaian.
Namun bentrokan tetap pecah.
Api permusuhan terus menyala di lorong-lorong kota. Ketika malam datang, warga justru dihantui ketakutan.
Ironisnya, sebagian pemuda kini lebih akrab dengan busur dan papporo dibanding mimpi tentang masa depan mereka sendiri.
Di titik inilah, instruksi Kapolres berubah menjadi “peluru terakhir” negara.
Bukan sekadar tindakan represif, tapi pesan keras bahwa hukum tak bisa terus-menerus dipermainkan.
Polisi menegaskan, tindakan tegas itu tetap harus sesuai prosedur. Ada Protap. Ada tindakan terukur. Tidak sembarang peluru dilepaskan.
Namun publik menangkap makna yang lebih besar: negara mulai menunjukkan wajah paling keras demi menjaga keselamatan warga.
Situasi ini sekaligus jadi alarm bagi semua pihak.
Sebab akar persoalan sesungguhnya tidak selesai hanya dengan senjata.
Bentrokan jalanan lahir dari masalah sosial yang lebih dalam. Pengawasan keluarga melemah. Ruang pembinaan pemuda makin sempit. Ego kelompok tumbuh tanpa kontrol.
Polisi memang berdiri di garis depan. Tapi mereka tak bisa bekerja sendiri.
Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga orang tua punya tanggung jawab yang sama besar untuk menghentikan lingkaran kekerasan ini.
Karena jika generasi muda terus tumbuh dalam budaya bentrok, maka yang hancur bukan hanya keamanan kota—tetapi masa depan Palopo sendiri.
Langkah tegas kepolisian kini mendapat dukungan luas dari warga yang lelah hidup dalam ketegangan.
Meski begitu, banyak pula yang berharap satu hal: semoga peluru itu tidak pernah benar-benar keluar dari larasnya.
Sebab kota yang damai tidak dibangun hanya dengan ketakutan, tetapi juga dengan kesadaran bersama.
Kini, Palopo sedang diuji.
Dan di atas semua kepentingan kelompok, keselamatan rakyat tetap menjadi hukum tertinggi. (*)







Tinggalkan Balasan