Belakangan ini, ruang publik kita kembali diguncang oleh potongan video pernyataan pengacara kondang Hotman Paris Hutapea kepada wartawan. Nada bicara yang terdengar merendahkan, gestur tubuh yang tidak menghargai, serta kalimat-kalimat yang seolah menempatkan jurnalis sebagai objek yang boleh diperlakukan sesuka hati, memicu gelombang kritik tajam.
Namun, bagi saya, menonton klip tersebut berulang kali bukan sekadar memvalidasi rasa marah terhadap satu individu. Itu adalah momen ketika saya mengingat kembali diagnosis lama atas sebuah penyakit kronis yang menyerang elit negeri ini: penyakit merasa dirinya lebih penting daripada orang lain.
Penyakit ini tidak mengenal batas profesi, gelar akademik, atau status sosial. Ia adalah virus narsisme yang tumbuh subur di tanah kesuburan popularitas dan kekuasaan. Ketika seseorang terlalu lama berada di bawah sorotan lampu panggung, terlalu sering mendengar pujian, dan terlalu mudah mendapatkan akses istimewa, perlahan-lahan ia kehilangan kemampuan untuk melihat manusia lain sebagai subjek yang setara.
Wartawan, dalam pandangan mata yang sudah sakit ini, bukan lagi mitra demokrasi atau representasi hak publik untuk tahu. Mereka hanyalah “alat”, “pengganggu”, atau bahkan “bawahan” yang keberadaannya hanya sah jika melayani ego sang tokoh.
Hotman Paris, dengan segala pencapaian hukum dan ketenarannya, seharusnya menjadi contoh bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Namun, apa yang kita saksikan justru sebaliknya.
Pernyataan merendahkan terhadap profesi wartawan adalah bentuk kekerasan simbolik yang berbahaya. Ini mengirimkan pesan toksik kepada masyarakat bahwa kesuksesan memberikan lisensi untuk bersikap arogan. Bahwa ketenaran adalah alasan yang valid untuk menghilangkan adab dasar antarmanusia.
Padahal, sejarah membuktikan bahwa tokoh-tokoh yang benar-benar dihormati dan dikenang bukanlah mereka yang paling keras suaranya atau paling tinggi jabatannya. Mereka adalah mereka yang tetap rendah hati di puncak kejayaan, yang tetap menyapa petugas kebersihan dengan senyum, dan yang tetap menghormati wartawan yang bertanya kritis dengan jawaban yang berbobot, bukan dengan nada tinggi. Kesopanan dan kerendahan hati adalah mata uang yang jauh lebih berharga daripada jumlah followers atau rating acara televisi.
Polemik Hotman Paris ini harus menjadi alarm keras bagi seluruh public figure, politisi, pengusaha, maupun pejabat. Jangan biarkan popularitas mengubah Anda menjadi monster yang lupa daratan. Ingatlah bahwa tanpa media dan wartawan, suara Anda mungkin tidak akan pernah sampai ke telinga publik seluas ini.
Hormati mereka yang membawa pesan Anda, karena pada akhirnya, kehormatan seseorang tidak diukur dari seberapa besar namanya disebut orang, melainkan dari seberapa dalam rasa hormatnya terhadap orang lain—termasuk wartawan yang kerap ia temui di lorong-lorong kekuasaan.
Jika penyakit narsisme ini tidak segera disembuhkan dengan obat bernama kerendahan hati, maka popularitas yang dibangun di atas puing-puing martabat orang lain hanyalah istana pasir yang akan runtuh diterpa ombak waktu. (*)







Tinggalkan Balasan