Di balik wajah Sidrap yang terus berkembang, masih ada hati yang menunggu untuk didengar, tangan yang membutuhkan pertolongan, dan korban yang membutuhkan perlindungan.

Oleh: Iwan

Sidrap – Kabupaten Sidenreng Rappang terus bergerak menuju perubahan.

Kemajuan terlihat di berbagai sektor. Pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur, hingga kehidupan sosial masyarakat terus mendapat perhatian.

Berbagai program pemerintah juga terus digulirkan.

Namun, di balik geliat pembangunan tersebut, masih ada cerita yang belum banyak terdengar.

Masih ada suara lirih yang tertahan.

Masih ada warga yang menangis dalam diam.

Mereka bukan tidak membutuhkan bantuan.

Mereka hanya belum tersentuh oleh program yang seharusnya dapat membantu meringankan beban hidup mereka.

Puluhan warga yang secara kondisi ekonomi layak mendapatkan bantuan pemerintah pusat.

Namun, hingga kini namanya belum pernah tercatat sebagai penerima.

Ia hanya bisa bertanya, mengapa bantuan yang dinanti tak kunjung datang?

Di rumah lain, seorang ibu menyimpan tangis yang jauh lebih berat.

Anaknya menjadi korban tindak kekerasan.

Ia ingin memperjuangkan keadilan untuk buah hatinya.

Namun, langkah pelaporan disebut terhambat karena tidak ada orang yang bersedia menjadi saksi.

Tangisan itu bukan sekadar kesedihan.

Itu adalah kegelisahan seorang ibu yang ingin anaknya mendapatkan perlindungan.

Sedangkan pelaku masih berkeliaran tegakkan dada merasa menang karena orang takut menjadi saksi.

Ada pula tangisan anak dan istri yang hidup dalam tekanan utang.

Persoalan itu disebut berkaitan dengan suami atau ayah yang mengalami ketergantungan berat terhadap sabu-sabu.

Beban ekonomi bertambah.

Ketenteraman keluarga ikut terguncang.

Anak dan istri pun harus menghadapi dampak dari persoalan yang bukan mereka ciptakan.

Di sisi lain, ada yang lebih memilukan.

Seorang anak perempuan di bawah umur yang menghadapi dugaan kekerasan seksual oleh bapak kandung yang seharusnya menjadi pelindungnya.

Ia tidak semestinya memikul luka sendirian.

Masa kanak-kanak seharusnya diisi dengan pendidikan, permainan, kasih sayang, dan rasa aman.

Bukan ketakutan.

Bukan trauma.

Bukan luka yang mungkin dibawa sepanjang hidup.

Di sisi lain, ada seorang suami yang menyimpan luka dan kemarahan.

Istrinya disebut menjadi korban pelecehan seksual oleh ayahnya sendiri.

Situasi seperti ini bukan sekadar persoalan keluarga.

Ini menyangkut keselamatan korban, perlindungan anak, penegakan hukum, serta keberanian lingkungan sekitar untuk tidak membiarkan korban menghadapi semuanya seorang diri.

Dari segelintir fakta tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang jalan yang semakin baik.

Bukan pula sekadar tentang gedung baru, program baru, atau capaian angka statistik.

Pembangunan juga tentang memastikan tidak ada warga yang merasa ditinggalkan.

Tentang memastikan anak-anak terlindungi.

Tentang memastikan korban kekerasan memiliki ruang untuk berbicara dan mendapatkan pendampingan.

Tentang memastikan masyarakat yang membutuhkan bantuan sosial tidak luput dari pendataan.

Karena di balik angka-angka keberhasilan pembangunan, selalu ada manusia dengan kehidupan dan persoalannya masing-masing.

Mungkin mereka tidak datang ke ruang rapat.

Mungkin suara mereka tidak terdengar di podium.

Namun, tangisan mereka tetap nyata.

Mereka tidak meminta keistimewaan.

Mereka hanya berharap ada yang melihat.

Ada yang mendengar.

Ada yang peduli.

Dan ada yang datang memberikan pertolongan.

Sidrap boleh terus tumbuh.

Sidrap boleh terus membangun.

Namun, jangan sampai kemajuan itu membuat kita lupa bahwa masih ada yang menangis dalam diam di Sidrap.

Sebab di balik wajah Sidrap yang terus berkembang, masih ada hati yang menunggu untuk didengar, tangan yang membutuhkan pertolongan, dan korban yang membutuhkan perlindungan.

Masih ada yang menangis di Sidrap.

Dan tangisan itu seharusnya menjadi panggilan bagi semua pihak untuk hadir, mendengar, melindungi, dan mencari jalan keluar.

Sebab, ukuran kemajuan sebuah daerah bukan hanya seberapa banyak yang telah dibangun, tetapi juga seberapa sedikit warganya yang harus menangis sendirian. (*)