BANGGAI LAUT – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Banggai Laut mengeluarkan imbauan keras kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Imbauan ini disampaikan pada Kamis (15/10/2026) menyusul penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah permukiman.
Kepala Dinkes PPKB Kabupaten Banggai Laut, Aryanto A. Latta, menegaskan bahwa paparan asap bukan sekadar gangguan kenyamanan, melainkan ancaman serius bagi sistem pernapasan dan kesehatan umum.
“Apa yang terlihat sebagai kabut tipis bisa jadi adalah partikel berbahaya. Paparan asap dapat memicu iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, batuk kronis, hingga sesak napas. Bagi penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kondisi ini bisa berakibat fatal jika tidak ditangani segera,” tegas Aryanto A. Latta.
Langkah Mitigasi: Masker, Tutup Jendela, dan Hidrasi
Untuk meminimalkan risiko, Dinkes Banggai Laut memberikan panduan praktis yang wajib diterapkan warga saat kualitas udara memburuk:
Batasi Aktivitas Luar Ruangan: Hindari olahraga atau pekerjaan berat di luar rumah ketika asap pekat menyelimuti area tempat tinggal.
Gunakan Masker yang Tepat: Jika terpaksa keluar, gunakan masker medis atau N95 untuk menyaring partikel halus (PM2.5) dalam asap. Masker kain biasa kurang efektif menahan polutan asap.
Isolasi Rumah: Tutup rapat pintu dan jendela untuk mencegah masuknya asap ke dalam ruangan. Gunakan kipas angin atau AC dengan filter bersih jika tersedia.
Perbanyak Cairan: Minum air putih lebih banyak untuk membantu tubuh menetralisir racun dan menjaga kelembapan saluran pernapasan.
Segera Berobat: Jangan tunda mencari pertolongan medis jika mengalami gejala seperti dada sesak, batuk berdahak parah, atau pusing.
Prioritas Perlindungan bagi Kelompok Rentan
Aryanto A. Latta secara khusus meminta perhatian ekstra bagi kelompok rentan, meliputi:
- Anak-anak (balita dan usia sekolah)
- Lanjut usia (Lansia)
- Ibu hamil
- Penderita penyakit jantung dan pernapasan kronis
Kelompok ini memiliki daya tahan tubuh lebih rendah terhadap polusi udara, sehingga paparan asap dalam durasi singkat pun berpotensi menyebabkan komplikasi serius.
Pencegahan Adalah Kunci: Stop Bakar Lahan Sembarangan
Di sisi hulu, Dinkes juga mengingatkan bahwa solusi terbaik adalah mencegah terjadinya karhutla. Masyarakat dihimbau keras untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Praktik pembakaran sembarangan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga meracuni udara yang dihirup oleh keluarga dan tetangga sendiri.
“Kesadaran kolektif adalah benteng utama. Mari kita jaga lingkungan agar tetap bersih dari asap. Kesehatan warga adalah prioritas utama yang tidak boleh dikorbankan demi kemudahan sesaat,” pungkas Aryanto.
Masyarakat diharapkan terus memantau informasi kualitas udara lokal dan segera melaporkan jika menemukan titik api baru kepada pihak berwenang. Dengan kewaspadaan dini dan tindakan preventif, dampak buruk karhutla terhadap kesehatan masyarakat Banggai Laut dapat ditekan seminimal mungkin.
REPORTER: SUSANTO
(Tim Redaksi / JURNALPOLRI.MY.ID)







Tinggalkan Balasan